Jumat, Februari 25, 2011

Pahit




“ …*****..”

Setiap kali mengingat kata 'bintang'mu di pertengkaran terakhir kita
Setiap kali itu pula aku harus mereguk pahitnya kopi hitam tak bergula itu

Bukan
Bukan airnya lagi
Tapi sudah ampas pekat di dasar cangkirnya




Rabu, Februari 16, 2011

Ujung Sebuah Titik



Dan ia
menggelinding
Terjun terus ke bawah
Terikut arus gravitasi
Terhenyak
Terhempas
Terombang ambing

Dan aku
Disini memandangi
Hanya memandangi di bawah rintik hujan membasahi

Ia semakin melaju
Tanpa bisa aku hentikan
Ia semakin terlihat kecil dan samar dari pandanganku
Terus bergerak dengan gelinciran
Layaknya pada sebuah perosotan licin dan panjang

Dan aku
Disini memandangi
Hanya memandangi
Sampai ia hilang
Bahkan sampai aku menyadari
Bahwa sudah saatnya aku berbalik
Dan melangkah kembali




Selasa, Februari 08, 2011

Senyummu Doaku


             

‘Hey, ada apa ini?’

Aku tergopoh-gopoh berjalan ketika ia menarik tanganku. Dia hanya tersenyum sambil terus berlari tak mempedulikan ceracauanku. Ilalang-ilalang berdaun tajam di kiri dan kanan pematang cukup tinggi sehingga menjulur dan menghalangi kakiku melangkah di tengah kegelapan malam. Tapi ia seolah tak mempedulikan makianku begitu kakiku tersandung ilalang-ilalang liar itu. Ia terus menarik tanganku untuk ikut berlari mengikutinya.

            ‘Hey, malam baru saja menjelang. Kita tak perlu terburu-buru menemui bulan. Hey,,berhentilah dulu, kakiku sakit terkena ilalang-ilalang liar ini. Heeeyy,,,,’

Dan ia terus berlari tanpa sedikitpun menoleh untuk melihat luka di kakiku. Aku bersungut-sungut dibelakangnya.

Begitu sampai di pondok rahasia, ia melepaskan pegangannya dan menyuruhku duduk. Mukaku masih cemberut dengan bibir mengerucut. Aku lelah dan kakiku perih. Ia memandangiku tersenyum. Senyumnya membuatku semakin mengerucutkan bibir. Aku kesal padanya. Tapi, melihat senyumnya seperti itu…. Huff….

Dia menatapku dengan masih tersenyum, ‘kenapa masih cemberut?’

Aku merungut,’kakiku sakit’

Ia berjongkok duduk dihadapanku,’mana sini aku lihat’

Dengan cepat aku menyurukkan kakiku yang tergores ilalang sebelum tangannya menggapai kakiku.

            ‘Bagaimana aku bisa tahu kalau kakimu terluka kalau disembunyikan seperti itu. Sini,,,’

            “Ga usah.  Udah ga papa’

Ia tidak memaksa dan kemudian berdiri mengeluarkan saputangannya. Disodorkannya kehadapanku,
            ‘Lap lukamu, akan kucarikan daun singkong untuk mengobatinya. Tunggu disini ya…’

Aku hanya diam memandanginya. Ia berasak ke semak-semak. Begitu ia menghilang di tengah kegelapan malam, aku terpaku menatap saputangannya. Kuulurkan selendangku untuk melap luka-luka di kakiku. Sementara tanganku yang satu lagi tetap menggenggam saputangan yang diberikannya.

Tak berapa lama, sayup terdengar suara langkah kaki mendekat. Ia kembali. Kedua tangannya penuh dengan tentengan. Tangan kanannya memegang beberapa batang tangkai daun singkong dan tangan kirinya menyeret umbinya. Ia seperti orang pulang memanen dari kebun singkong. Ia tersenyum gembira begitu melihatku. Aku juga jadi tersenyum melihatnya seperti itu.

            ‘Sudah kau lap lukamu?’, tanyanya begitu sudah didekatku

Kembali kusurukkan kakiku dan mengangguk menjawab pertanyaannya. Setelah anggukanku meyakinkan hatinya, ia berasak menumbuk daun-daun singkong yang dibawanya tadi. Aku hanya memandanginya dari jauh. Dan lagi-lagi ia masih tersenyum melakukan itu. Aku terlarut dalam hentakan tangannya memegang batu menghaluskan daun-daun singkong itu. Seketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku tergagap begitu pandangan mata kami bertemu. Ia tergelak melihatku terkejut. Aku kembali mengerucutkan bibirku.

Ia kembali menghampiriku begitu ‘obat racikan’nya telah selesai.
            ‘Mana kakimu yang luka itu?’

Aku mengulurkan tanganku, ‘biar aku yang pakaikan sendiri. Sini obatnya..’

Ia meletakkan obat racikannya ke telapak tanganku kemudian berbalik mengumpulkan ranting-ranting kering disekitar pondok. Sepertinya ia ingin membuat unggun. Aku hanya memperhatikannya sibuk sendiri menyalakan api. Begitu aku selesai menutupi luka-lukaku dengan ‘obat racikan’nya, ia juga sudah berhasil membuat unggun yang cukup besar dan terang. Ia menoleh ke arahku dengan senyum bangganya. Aku membalas untuk berterima kasih, karena unggunnya cukup memberi hangat. Kemudian satu persatu ubi singkong hasil panennya tadi dimasukkannya ke tengah api. Aku hanya memperhatikannya dari jauh.

Begitu semua sudah dianggapnya beres, ia berjalan ke arah pondok. Aku memperbaiki posisi dudukku untuk memberinya tempat untuk duduk. Ia belum melepaskan pandangannya dari unggun, dan beberapa saat kemudian sekilas ia melirik padaku,

            ‘Bagaimana lukamu?’
            ‘Sudah tidak apa-apa. Terima kasih ya.’

Ia memandangku tersenyum,’benar sudah tidak apa-apa?’

Aku mengangguk untuk meyakinkannya.
            ‘Maaf telah membuatmu kesal dengan ulahku. Aku hanya ingin kita segera sampai disini secepatnya’

            ‘Ya tapi tanpa berlari pun kita akan sampai di sini kan. Malam belum terlalu larut. Kita masih punya banyak waktu untuk bertemu bulan. Lagian sekarang, kita masih duduk disini, belum juga mengunjunginya dan kau malah menyalakan unggun. Jadi untuk apa kita terlalu bergegas tadi.’

            “Aku takkan membiarkanmu terluka hanya untuk bertemu bulan.’

Aku terheran, ‘Jadi ada apa kita sampai disini begitu cepat?’

Ia tersenyum lagi tidak menjawab.

Aku mendesaknya, ‘Hey,,ada apa?’

            ‘Hari ini aku ulang tahun’

Aku terkejut mendengar ucapannya. Tak menyangka ternyata dengan semangatnya menarik tanganku agar segera sampai di pondok ini untuk ulang tahunnya. Tak mengira kalau aku adalah tamu istimewa yang dipilihnya untuk hadir di acara ulang tahunnya. Dan tak pernah terpikir, kalau ia juga peduli dengan hari kelahiran itu.

Aku hanya terdiam di sampingnya. Aku bingung harus melakukan apa terhadap semua kejutan yang diberikannya. Harusnya aku yang memperlakukan dia istimewa di ‘hari’nya. 

            ‘Kau tak mau mengucapkan sesuatu?’ pertanyaannya mengagetkanku

Mulutku pelan membuka, ‘aku,,,hmm,,,selamat ulang tahun,,,’

Dia tergelak kecil,’kenapa salah tingkah seperti itu?’

Bibirku mengerucut,’Aku tidak tahu kau ulang tahun hari ini. jadi aku tak punya sebuah hadiah untukmu,’

            ‘Aku tidak meminta’

            ‘Ya,,tapi ulang tahun kan harus seperti itu. Aku harus memberimu sebuah hadiah. Itu sudah seharusnya. Tapi aku tidak punya apa-apa untukmu. Kau tidak bilang sih,,’

Ia tergelak lagi, ‘Kau sungguh mau memberiku hadiah?’

            ‘Andai kau memberiku kesempatan untuk mempersiapkannya.’

            ‘Tak perlu’

            ‘Apa?’ aku bertanya untuk meyakinkan apa yang baru saja ia ucapkan

Ia mengulanginya, ‘Kau tak perlu mempersiapkannya. Luka kakimu adalah hadiah untukku.’ Ia mengerling ke arahku.

Mataku membelalak membalas kerlingannya, ‘Apaaa???’

Ia terkekeh,’Sudah, lupakanlah soal hadiah. Aku tak memintanya. Aku hanya butuh kau menemaniku merayakannya malam ini. Disini. Bersama api unggun itu.’

Ia tersenyum kemudian berdiri. Sentakan kepalanya mengajakku untuk mengikutinya duduk di dekat api. Aku menurut duduk disebelahnya. Ia mengaduk-aduk api mencari ubi singkong yang tadi dibakarnya. Tanganku juga bergerak membantunya mengeluarkan singkong. Sembari menikmati singkong bakar buatannya, kami bercakap-cakap. Malam yang berbeda dari biasanya. Mungkin saat ini aku juga yang ikutan telat untuk bertemu Bulan malam ini. tapi, hey,,,aku jadi teringat sesuatu,

            ‘Hey, apakah bidadarimu tahu kau ulang tahun hari ini? kenapa tak merayakan bersamanya?’

Dia menjawab tak acuh,’hmm,,kurasa mungkin dia juga tidak tahu. Aku tidak pernah memberitahukan hari ulang tahunku padanya sebelumnya’

            ‘Trus kenapa tak kau rayakan bersamanya. Bukankah lebih menyenangkan jika kau merayakan bersamanya?’

Dia tersenyum, ‘Selalu ada waktu untuk bersamanya. Kau tak perlu khawatir. Saat ini aku ingin merayakannya denganmu.’

Aku hanya diam mendengar ucapannya. Ia terlihat kembali sibuk dengn singkong bakarnya memandang unggun. Kulihat dahinya penuh dengan peluh. Kuberikan saputangannya yang sedari tadi ada digenggamanku. 

            ‘Lap lah peluhmu. Aku tak jadi mengusap lukaku dengan saputanganmu.’
Ia menoleh ke arahku, tersenyum dan melap peluhnya dengan lengan bajunya. 

            ‘Kau simpan saja saputanganku. Mungkin di lain waktu kau membutuhkannya.’

Aku diam menurut menarik uluran tanganku. Ku pandangi dia tersenyum dan selalu tersenyum menatapku. Aku juga tersenyum sekilas membalas, kemudian ia sibuk membetulkan susunan kayu api yang sudah mulai berserak karena kayunya sudah menjadi arang. Aku ikut membantunya. Dinginnya malam, membuatku semakin erat mengenggam saputangannya. Dalam hati, aku berdoa untuknya, mudah-mudahan Rabb selalu memberikan kebahagiaan untuknya, diwaktu  pagi, petang dan malam agar ia selalu bisa tersenyum seperti biasanya.


 pict from: here

Minggu, Februari 06, 2011

Sebuah Ucapan Untuk Ceritasha


Lilin-lilin sudah merona,
Malam sudah semakin pekat hendak berganti hari,
aku tahu,
kau menantikan sebuah kalimat malam ini,

Ceritasha,,
Selamat Ulang Tahun,,
Aku mencintaimu,,,,

Salam,
Yang memilikimu


**Postingan pertama Ceritasha: Awal Sha Bercerita



Rabu, Februari 02, 2011

Perangku Belum Usai



Sampai kapan aku kan menunggu rentetan bom ini berhenti menghantam tanah sembabku
Perang ini belum berakhir juga
Tapi aku sudah lelah karenanya

Apa lagi yang masih kuperjuangkan,,

Hatiku sudah hancur berkeping2
Sudah coba kukumpulkan dan kususun
tapi hantaman peluru itu tepat mengantam pusatnya
Hingga pecah berderai

Tandus sekarang,,
Gersang,,,
Ia sudah menghancurkan segalanya,,
Menyisakan debu yang menyesakkan dan bau 

Langit kelam tak bercahaya
Aku tak tahu apakah malam sudah menjelang atau memang matahari yang tak datang
Jikapun sekarang malam telah berkuasa, kemana bulannya??

Aku ingin menemuinya dan memandanginya,,,
Akan kuluapkan dan kuceritakan semua kesahku padanya,,
Akan kuadukan semua yang menghancurkan tanah suburku
Yang membuat hatiku pecah  berderai dan jatuh dari singgasananya

Kemanakah bulan?
Aku ingin memandanginya



Sabtu, Januari 29, 2011

Rabu, Januari 26, 2011

Mengintip Bidadari



Aku berlari menyusuri jalan setapak penuh ilalang. Sesekali kulihat ke belakang. Mungkin ada seseorang yang akan menyusul di belakangku. Tapi tak ada tanda-tanda. Hanya sepi malam dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Dengan nafas sedikit tersengal aku sampai di pondok, sebuah tempat pertemuan rahasia  untuk menemui bulan. 

Aku duduk melepas lelah. Masih ada waktu untuk berleha sejenak sebelum menemui penguasa malam itu. Ku pandangi ia dari jauh. Sinarnya tak cukup terang malam ini, hanya seperempat saja sabitnya. Tapi dengan senyumannya seperti itu, ia sangat terlihat anggun dengan jubah keratuannya. 

Entah sejak kapan, aku tidak ingat dengan pasti, aku mulai menjadi abdi malamnya. Aku senang menjalaninya. Menjadi selalu tak sabar menunggu malam menjelang, menghabiskan malam hanya untuk sekedar memandanginya dan jika ku sudah lelah, aku datang menemuinya dan sedikit bercakap-cakap dan kemudian ia akan mempersilahkanku untuk tidur dengan belaiannya. Hingga akhirnya ku terlelap dengan senyuman. 

            ‘Sstt,, sstt,,’ terdengar sebuah siutan memanggil

Aku menoleh ke sekeliling. Terlihat seseorang dari balik semak-semak. Ia berjalan menghampiri. Sosoknya tak begitu jelas karena memang cahaya bulan sabit tak cukup menerangi jagad malam ini. Tapi ketika hampir mendekat, aku jadi tersenyum geli melihatnya. Ia kan teman seperjalananku. Kadang kami berpapasan sewaktu menghadap bulan di istananya. Kadang kami bercengkarama dulu di pondok ini sebelum ke istana. Dan aku dibuatnya tergelak malam ini, apa yang dilakukannya di balik semak-semak itu.

Ia tersenyum begitu sampai di depanku. Aku membalas dengan  tertawa lepas bahagia. Kemudian ia duduk disampingku. Dia masih tersenyum. Aku menoleh,
            ‘Apa yang kau perbuat di sana? Di semak-semak? Lihatlah tampangmu karenanya. Rambutmu kusut kena ranting-ranting.’

Ia mengacak-ngacak rambut dengan jarinya. Tapi yang aku herankan, dia masih tersenyum.

            ‘Ada apa sih? Apa yang kau lakukan di sana?’

Ia balik menoleh kepadaku, dan masih dengan tersenyum. Kali ini lebih lebar. Hingga matanyapun jadi ikut tersenyum.

            ‘Aku mengintip bidadari.’

Mataku terbelalak, tapi kalimatnya membuatku tertawa terbahak mendengar ceritanya. Bagaimana mungkin ia bisa mengintip bidadari. Seperti Jaka Tarub saja, pikirku.

            ‘Kau tidak percaya?’

Tawaku berhenti paksa, dan kuanggukkan kepala untuk mengatakan aku percaya.

            “Kau tidak percaya sepertinya,”, ia mengalihkan pandangannya dariku. Senyumnya tak terlihat lagi.

Aku merasa bersalah. Apakah ia sedih? Kali ini kukatakan dengan sungguh-sungguh sambil tersenyum padanya.
            ‘Hey,,, aku percaya padamu.’

Dia menoleh lagi dan untungnya dia kembali tersenyum, hingga membuatku lega. ia selalu seperti itu. Tak pernah membuatku khawatir.

            ‘Hmm,,sang bulan menanyakanmu terus. Katanya kenapa kau jarang menyapanya beberapa hari ini. hari inipun kau telat menyapanya.’ 

            ‘Hehehe,,iyah,aku sudah hinggap di mahligainya sebenarnya. Tapi ada yang mengusikku hingga tak sempat menemuinya di istana.’, jawabnya, dan senyum lebarnya kembali merekah

Aku semakin penasaran apa yang terjadi dengannya, ‘Oh, ya??? Apa itu? Bulan sudah menantimu di istananya. Kau akan membuatnya murka jika tidak menemuinya malam ini’

            ‘Malam ini aku juga akan terlambat menemuinya. Tapi akan kusampaikan sesuatu dan kuyakin ia pasti akan mengabulkan permintaanku.’

‘Memangnya apa yang akan kau pinta?’, tanyaku penasaran

Dia tersenyum memandangku, ‘Akan kuminta izinnyanya untuk bercengkrama dan bersenda gurau dengan bidadarinya. Walau hanya sekejap’

Aku hanya terdiam mendengar celotehannya. Sepertinya ia begitu bersemangat bercerita tentang bidadarinya. Dan aku tidak mau mengusiknya. 

Ia memandang bulan masih dengan senyumannya. Mungkin melihat bidadarinya yang sedang menari di atas sana. Dan aku juga ikut tersenyum bahagia walau aku sendiri tak bisa melihatnya.



Sabtu, Januari 22, 2011

Langit,,

1160116911



Langit..
Kenapa begitu cerah hari ini?
Kamu ingin menertawakanku ya?
Kamu ingin mengejekku ya?

Langit..
Mana mendungmu?
Suruh dia temani aku disini...
Biar ku tak merasa sendiri...

Langit..
Mana hujanmu?
Biarkan ia membasahi tanah..
Biar membasuh semua galauku..
Dan mengalir menuju laut..
lepas dan jauh meninggalkanku...

Langit..
Aku merasa sendiri sekarang...
Kenapa bintang-bintangmu lambat sekali menjelang..
Aku rindu  padanya...

Langit..
Biarkan matahari secepatnya pergi..
Biar hari cepat berganti..
Karena aku merindukan malam...



Rabu, Januari 19, 2011

One Cup of Cappucino



Kusiapkan satu cangkir cappucino untukmu malam ini,,
Untuk pengusir kantuk yang menyerang,
Untuk penghilang penat yang menggelayuti,
Untuk pengusir jemu yang membuncah,,
Karena ku tak bisa ada di sana,
Menemanimu menghabiskan malam,
Bercerita tentang bulan dan tarian bidadarinya


Selasa, Januari 11, 2011

Fragile (3)






Ketika sesak itu tercekat ditenggorokan
Gemuruh hati itu terpaksa kutahan untuk kesejuta kalinya

Puaskah kau membuatku ringkih seperti ini?
Senangkah kau membuat berjuta-juta ton beban menghantuk kepala dan pundakku?

Aku ingin mengumpulkan kepingan hatiku
Aku ingin melepas lelah sejenak
Aku ingin menghibur hatiku

Apalagi yang kau inginkan dariku?

Setelah kau buat aku menjadi pecundang untuk sebuah hal yang tidak aku lakukan
Setelah kau balik mengkambinghitamkan kesalahanmu kepadaku
Setelah kau menghasut semua orang untuk merutukku
Setelah kau keluarkan semua perbendaharaan kata-kata hina untuk melecehkanku

Apalagi,,,apalagi yang kau inginkan,,??

Biarkan aku terlelap sejenak
Biarkan aku melepas semua beban ini untuk sementara
Biarkan ku keringkan dulu air mata dari hatiku
Biarkan aku sendiri mengemasi pecahan rasaku

Bisakah,,,?
Bisakah,,,?
Bisakah,,,?

Ku mohon,,,,



Senin, Januari 10, 2011

Fragile (2)



“Dia memanfaatkanku,,,”
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,   
(....Geram hatiku sepuluh kali......)



Begitu mendidihnya amarah hatiku 
hingga ubun-ubunku juga terasa panas
Telingaku berdenging mendengar teriakan kata-kata hatiku selama ini tak terucap

Aku ringkih
Tak tega melihat keaadaan hatiku yang seperti ini
Hatiku sakit
Kemana harus kucarikan  penawarnya??

Di tengah rintihannya, 
aku coba menata kembali serpiihan yang tergeletak
Kasihan melihat dia teronggok mencari nyawa yang terlempar entah kemana..

Tak pernah kulihat ia sedemikian

Tapi ia tak menangis,
karena tak kulihat air mata disitu

Mungkin ia lelah,,
Karena ku bebankan dengan segala perasaan yang aku punya

Tapi aku tak pernah membuatnya bahagia

Kalaupun ia sempat melambung, 
itupun hanya sementara, 
karena tak ada yang mencintainya setulus jiwa
Karena orang lain hanya memanfaatkannya

Termasuk aku,,

Itu karena ia terlalu lemah




Sunyi

pict from here Kau tanya, apakah aku baik-baik saja setelah kau bercerita tentang gelisahmu menyapu malam? Beringsut nafas memburu, b...