Sabtu, Oktober 23, 2010

Aku Akan Baik-Baik Saja


Thine  eyes are full of mystery. Aku gak akan pernah lupa dengan kalimat itu. Aku pernah membaca di sebuah cerpen karangan seorang teman.. ‘Aku pernah melihat bintang di mata seseorang”. Bisakah itu disamakan? Kurasa tidak tapi maksud dari ucapan itu mungkin sama... ungkapan perasaan seseorang.

Apa yang kau harapkan jika ada yang membawamu terbang ke atas? Membawamu menari terbang diatas awan? Bukankah kau ingin ia memegang erat tanganmu berjalan bersisian menikmati indahnya istana di balik awan? Tapi bagaimana seandainya engkau hanya berjalan sendirian setelah ia menarikmu ke atas? Ia seakan lupa kalau pernah mengajakmu kesana.. dengan tatapan kasihan ia melihatmu di kejauhan kebingungan karena kau tak tahu lagi cara keluar dari tumpukan awan.

Hh... tetaplah berjalan walaupun dengan tertatih2... susunlah kembali senyummu... tetaplah melangkah karena kau akan menemukan pintu yang akan membawamu pulang. Tunjukkan padanya... bahwa kau baik-baik saja...

Ku Kan Tegar


(Sequel Tegarku Karenamu)

Kuku berguguk, melonjak-lonjak tak tentu arah. Sesekali melenguh kemudian berguguk lagi. Ki tersentak dari lamunannya mengamati perilaku aneh Kuku. Ki terkesiap menatap sosok di depannya. Mata sipit berkacamata tipis itu tersenyum. Hangat. Ki diam tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasa mendekap melepaskan penat penantian. Tapi Ki hanya diam terpaku menatap sosok bermata tipis berkacamata tipis itu. Sebuah bulir jatuh di pipi Ki, jatuh dan mengalir. Ki hanya bisa memandang mencoba menggapai tapi ia perlahan menjauh. Walaupun tersenyum, tergurat satu kesedihan di matanya. Mata itu ingin berkata :

~Koko harus pergi Ki, walaupun sebenarnya sangat ingin selalu bersamamu~

Ki terduduk di hamparan pasir dengan tangan masih menggapai. Kepalanya terkulai menunduk menahan kegalauan hati.

Kuku melenguh. Pelan sekali. Sepertinya galau itu juga yang dirasakannya. Kehilangan yang juga dirasakannya. Takkan ada lagi penantian. Koko telah datang untuk kembali pergi.

~Selamat jalan, Koko. Kami menyayangimu~


Adakah kesedihan tak terkira selain kehilangan orang yang di hati?
Tak ada lagi yang menemani, tak ada lagi yang menyemangati?
Ikatan tulus kenapa harus pergi
Tak bolehkah aku menikmati
Sekejap sudah kurasakan indahnya persahabatan
Untaian senyum tlah kudapatkan
Beribu rangkaian kata telah menjadi makna
Tak kusesali semua ini terjadi
Karena kusempat rasakan bahagia
Walaupun tak selama yang kuingin
Tapi selamanya kan kuingat
Kita pernah bersama…






Tegarku Karenamu






Sepoi angin laut membelai lembut jilbab putih Ki. Langit yang mulai menjingga menambah keindahan pantai di sore itu. Hamparan biru laut dengan gelombang ombak memberi keceriaan di laut yang sunyi. Perpaduan keindahan itu membuat burung-burung camar senang sekali terbang melintasi samudra. Semuanya itu yang membuat Ki juga senang menghabiskan sorenya berjalan menyisiri pantai bersama Kuku.
Keramaian pantai menyeruak ketika sore mulai mendekati senja. Sengaja meluangkan waktu hanya untuk mengiringi kepergian sang mentari. Mengisi waktu sambil menunggu bedug maghrib berkumandang. Melepaskan beban dan penat fikiran supaya dibawa angin laut terbang. Kelegaan pandangan menatapi birunya hamparan laut, sedikit mengurangi beban di hati.

Ki hanya tersenyum melihat tingkah polah Kuku. Ia senang sekali bila diajak bermain ke pantai. Meloncat-loncat kegirangan dan sesekali menggoda pengunjung pantai yang lain. Ki tidak memarahinya berbuat begitu. Karena ia yakin Kuku tidak akan menyakiti orang lain. Paling-paling Ki hanya tersenyum dan meminta maaf pada orang yang dijahili Kuku. Jangankan orang lain, Ki saja sering digodanya.

~Ayo, Ku... tangkap....~

Ki melempar sebuah ranting kecil jauh ke depan. Dengan semangat Kuku berlari kencang berusaha menangkap ranting kecil itu. Tiba-tiba..... dukkk.....

~Ooppss.... mati gue...~

Ki terkejut. Kuku gagal menangkap ranting yang dilemparnya. Malah ranting itu mendarat di pundak seorang pria. Orang kantoran agaknya. Berpenampilan rapi dengan kemeja polos yang lengannya digulung hingga ke siku. Pria itu dan temannya terkejut. Memegangi ranting, ia berbalik menoleh, mencari siapa si empunya ranting yang melemparinya.

~Guk... guk... guk...~

Kuku menggonggong berusaha meminta maaf dan mejelaskan apa yang terjadi. Sementara itu tuannya berlari kecil ke arah mereka dengan wajah memelas.

~Kena ya? Aduhh... maaf ya, Kak. Saya gak sengaja...~

Sosok di depannya tersenyum arif. Mata sipit berkacamata tipis itu memandang tulus memaafkan.

~Gak papa~

Diselipkannya ranting kecil itu di taring Kuku, kemudian dibelainya kepala hewan itu. Ia terlihat senang dan tenang. Tak biasanya ia bersikap demikian pada sosok yang baru dikenalnya

~Makasih ya, kak. Ayo, kuku... pulang!...~

Sosok berkulit kuning itu mengangguk. Dengan langkah cepat Ki berbalik dan berjalan terburu-buru. Takut jika si pemilik mata sipit berubah pikiran kemudian memakinya. Sedangkan Kuku berguguk kesenangan, meloncat-loncat dan mengibaskan ekornya.

~@~

Gugukan Kuku mengagetkan Ki dari lamunan. Ki menoleh. Kuku meloncat-loncat sambil terus berguguk. Ki mengernyitkan dahi menyipitkan mata memperhatikan sosok yang datang menghampiri. Sinar mentari sore menyilaukan pandangannya.

~Oh, God.. Itukan si kakak yang kemaren. Ada apa dia kesini? Jangan-jangan ia terluka lalu meminta pertanggungjawabanku atau datang untuk memakiku?~, batin Ki.

Si kakak tersenyum setelah sampai dihadapan Ki. Mata sipitnya memandang ramah.

~Hai, apa kabar? Tadi saya liat Kuku. Saya pikir pasti ada kamu juga. Makanya saya kemari. Benar namanya Kuku?~

Ki mengangguk singkat mengiyakan.

~Kalo kamu?~
~Hm..?~

Ia mengulurkan tangan.. ~Saya Anto.~

Ki hanya berdiri mematung kebingungan.

~Kakak gak papa kena lemparan kemaren, kan? Gak ada yang luka, kan?~

Yang ditanya menarik kembali tangannya.

~Gak papa kok. Saya baik-baik saja. Saya kesini bukan mau minta ganti rugi, kok. Saya cuman mau menyapa kamu?.~
~Heh.. hehe... Nama saya Kiki, kak.~
~Hah?..~

Si kakak tertawa, membuat mata sipit di balik kacamata tipisnya menghilang.

~Lho kok ketawa?~
~He..he.. Kiki... Kuku...?~

Ki ikut tertawa setelah menyadari yang dimaksud.

~Hm.. satu lagi, Ki. Jangan panggil saya kakak. Lucu kedengerannya. Kalo kamu ngerasa gak enak, panggil aja saya koko. Adek-adek saya biasa manggil saya koko.~
~Koko?..~ Kiki tertawa.
~Ada yang lucu?~
~Kiki... kuku... koko...~

Koko juga ikut tertawa.
 
Kiki hanya tersenyum. Ia yakin kokonya yang baru ini orang baik. Mudah-mudahan benar. Ia senang punya sahabat yang lebih dewasa dari dia.

~@~

Persahabatan terjalin. Kukupun akrab dengan koko. Koko yang mengajarinya hingga begitu mahir menangkap ranting dengan moncongnya. Koko yang melatihnya menari berputar hanya menggunakan 2 kaki. Koko yang mengelus dagunya jika ia melakukan sesuatu yang baik. Dan satu hal yang paling disenanginya, bergelut diatas hamparan pasir putih. Bahkan koko dengan senang hati akan ikut mencebur ke laut waktu memandikannya. Hal yang tidak pernah dilakukan sang majikan padanya selama ini. Sahabat tuannya itu, telah menjadi sahabatnya pula.

Kiki yang paling merasakan indahnya persahabatan itu. Tak hanya Kuku yang akan menemaninya menyusuri pantai di sore hari. Tapi juga pemilik mata sipit berkacamata tipis itu. Ia punya kakak sekarang. Koko yang selalu tersenyum melihat kedatangannya. Koko yang tak bosan mendengar ceritanya. Koko yang dengan kedewasaannya mencoba memberikan pengertian terhadap masalah yang dihadapinya. Koko menjadi sosok yang dibanggakannya. Begitu bangganya ia punya kakak, hingga kejadian kecilpun akan diceritakan dan dikadukannya pada Koko. Tinggal mata sipit itu berkacamata tipis itu yang tersenyum mendengar celotehnya.

Tak dinyana persahabatan mereka berjalan seiring waktu yang berputar cepat. Ditengah kesibukan kerjanya di sebuah perusahaan, pantai merupakan tempat untuk melepaskan penat fikiran. Udara segar pantai memberikan kesejukan setelah seharian berkutat dengan kerjaan. Ditambah kehadiran 2 sahabat, kelelahan seperti tak pernah lagi menyinggahi. Hanya senyum yang terukir bila kaki kembali melangkah pulang ke rumah.

Koko tersenyum melihat Ki berjalan terengah-engah ditumpukan pasir terhampar. Kuku berlari mendahuluinya, sambil terus berguguk seolah berkata:
~Koko... kami sudah datang...~

Koko akan mengelus dagu dan kepalanya jika ia berhasil mendahului Kiki. Ia akan melonjak dan berguguk karena kesenangan. Mungkin ia ingin mengatakan: ~Aduhhh.... seneng deh ketemu koko lagi disini..~

Setelah itu barulah Kiki akan sampai dengan wajah kecapaian. Tapi ada kegembiraan tersirat di sana. Lagi senyum mata sipit itu menyambutnya.

~Koko pikir kamu gak datang sore ini...~
~Ppff.... Ki harus datang.... memberi tahu kabar gembira buat koko...~
~Wah... apaan sih?~
~Mmm... naskah cerita Ki.... lolos seleksi....~

Koko tersenyum lebar. Ikut senang merasakan kebahagiaan yang dirasakan Ki.

~Itu berarti cerita kamu diberi kesempatan untuk dipentaskan?~

Ki tersenyum mengangguk.
  
~Wahh.... Koko harus minta tandatangan kamu sekarang nih...~
~Yee... kan belum tentu menang. Saingan Ki kan tambah berat...~
~Ki, look... jangan pernah berpikiran demikian. Itu hanya akan menambah beban. Jangan pernah menganggap saingan sebagai lawan, tapi sebagai partner dalam berjuang, mm? Yang penting usaha memberikan yang terbaik bagi orang lain, ya..?~

Ki tersenyum kagum sambil mengangguk.

~You rise me up to walk on stormy seas.~
~Show up the world, engineer muda..~
~Yee.. koko ngeledek... engineer nya kan masih lama..~
~Dipercepat dong. Jangan nulis mulu... masa mo jadi mahasiswi terus... hehe....~
~Koko mah iri gak bisa ngerasain dunia kampus yang menyenangkan lagi. Ayo..~

Koko tertawa, mengusap kepala diatas jilbab putih Ki. Kuku berguguk ikut merasakan kebahagiaan mereka menyusuri pantai sore itu...

~@~

Persahabatan memang indah. Indah sekali. Beruntunglah orang-orang yang dapat merasakan keindahan persahabatan itu. Hidup terasa ringan karena beban dapat dibagi. Kelabunya duka di hati menjadi tak berarti. Bulir bening hanya kan meneteskan keharuan karena keceriaan. Tak ada lagi yang akan ditakutkan di dunia ini. Karena akan ada sahabat yang akan mendampingi. Akan selalu ada semangat yang menjalari jiwa.

Semangat itu yang diperlukan dalam hidup ini. Semangat untuk menghadapi semua persoalan kehidupan. Tapi bagaimana jika sang pemberi semangat tak lagi ada di belakang? Akankah langkah akan bersurut? Tidak. Inilah waktunya untuk melepaskan ketergantungan. Semangat itu harus selalu ada dan akan selalu ada walaupun harus berjalan seorang diri.

~Ayo, Ku...~

Ki berjalan tergesa menapaki hamparan pasir putih. Wajahnya diliputi kegembiraan tak terkira. Cerita mengenai kegembiraan itu yang akan diceritakannya. Berbagi kebahagiaan dengan orang yang mendukungnya. Pasti sore ini akan menjadi hari yang indah.

Ki melemparkan pandangan ke seluruh penjuru pantai. Langkahnya makin melambat. Orang yang dicarinya tak terlihat. Kukupun mulai terlihat gelisah. Dari tadi ia hanya melenguh tak berguguk seperti biasanya.

Ki duduk dihamparan pasir putih. Dipandanginya buket bunga yang masih di genggaman. Kuku kembali melenguh, menyandarkan tubuhnya di samping sang tuannya. Jingganya langit sedikit mulai mengkelam. Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan pantai. Bedug maghrib sebentar lagi berkumandang. Tapi kedua sahabat itu masih bertahan menunggu di sana. Sepinya pantai mulai terasa. Sesepi rasa pada Ki dan Kuku sekarang. Lenguhan Ku memecah sunyi. Mungkin mencoba bicara dan menghibur tuannya. Ki mengusap dagunya.

~Hh... sepertinya Koko emang gak datang hari ini ya, Ku? Bunga ini pasti udah layu besok.~

Ki tersenyum sambil beranjak bangkit.

~Hmm.... tanpa bungapun koko pasti percaya kalo Ki menang ya, Ku?~

Kuku berguguk... lalu berjalan mengiringi langkah Ki.

~@~

Ini bulan kedua pantai terasa sepi walaupun banyak orang yang mengunjungi. Semua kembali seperti sediakala. Memandangi hamparan laut biru yang bergejolak. Menikmati belaian angin laut. Menyaksikan liukan burung camar yang terbang pulang ke sarang. Semua itu tetap suatu keindahan yang selau menarik Ki untuk mengunjunginya. Keindahan pesona lain yang hadir di sana. Keindahan yang akan selau berbekas di hatinya.

Gugukan kuku mengagetkannya dari lamunan. Diraihnya ranting kecil di sisi telapak kaki. Dengan bersemangat dilemparkannya ranting itu jauh ke depan.

~Tangkap... Ku....~

Kuku berlari kencang berusaha menggapai ranting itu dengan moncongnya. Ki tersenyum. Bagaimana jika seandainya ranting itu mengenai pundak seseorang yang berkemeja polos yang lengannya digulung hingga ke siku? Sambil membetulkan letak kacamata tipisnya, mata sipit itu akan tersenyum. Hm.. tapi agaknya kuku berhasil menangkap ranting itu. Dengan bangga ia kembali berjalan ke tempat tuannya. Sang tuan merunduk untuk membelai dagu dan kepalanya.

~Good boy!!~

Kemudian keduanya berjalan menyisiri pantai hingga sang waktu menyuruh mereka pulang.


Thanks to: Josh Groban
Ada suatu kekuatan pada lagumu, Josh


Jumat, Mei 22, 2009

Ketika Aku Memilih Untuk Diam



Akhirnya hujan itu turun juga setelah akhir sore menjelang. Kelabunya mendung sedari pagi tak jua menumpah hingga beban itu akhirnya turun juga. Deras sekali dan sepertinya akan lama. Mungkin karena begitu banyaknya uap air yang tertahan ditumpukan awan beberapa hari ini, karena memang akhir-akhir ini panas begitu menghujam, dan menyebabkan penguapan juga semakin tinggi..walah aku malah bercerita mengenai siklus hidrologi. :)

Begitu memandangi hujan, perasaan hati ku juga berganti. Selalu seperti ini. Entah kenapa. Tapi memang beberapa hari belakangan ini gundahku sedang melanda. Banyak hal dalam hidup yang harus aku hadapi. Perasaan sensitifku kembali memuncak. Setiap perkataan orang, seolah2 adalah ejekan dan sindiran. Perasaan sendiri dan menyepi kembali menggelayuti. Kesendirian menurutku terasa lebih indah daripada harus berada diantara orang-orang dan tertawa bersama-sama. Karena kalaupun aku bisa tertawa, itu hanya sementara, karena masalahku takkan selesai dengan tertawa. Aku hanya minta orang lain mengerti akan keadaanku. Aku tidak meminta mereka menghiburku dan bernyanyi untukku, tapi hanya memahami apa yang aku rasakan saat ini. Bila tiba waktunya aku akan bercerita. Itupun kalau mereka ingin mendengarkan. Aku hanya butuh mereka mendengarkan. Aku takkan membebani mereka dengan solusi apa yang terbaik untuk menyelesaikan masalahku. Bukannya angkuh, tak mau mendengar komentar dan pendapat orang lain, tapi aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri.

Kekecewaan pernah menghujani perasaan kita bukan? Itu yang pernah aku alami ketika suatu kali atau beberapa kali mencoba terbuka dengan orang lain. Bercerita tentang apa mau kehendak dan masalahku. Aku bercerita hanya ingin mereka mendengarkan, tapi bukannya mengasihaniku dan menyudutkanku. Tapi apa yang aku terima? Aku langsung disudutkan dengan mengatakan bahwa permasalahanku adalah permasalahan kecil, dan menyudutkanku dengan mengatakan bahwa aku tak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan untukku…ya Rabb…tak pernah terlintas dalam fikiranku untuk menghujamMu dengan mengkufuri nikmat yang Engkau berikan.

Aku tersudut, mulutku bungkam, ubun-ubunku berdenyut-denyut menahan emosi yang bergejolak dalam hatiku. Hatiku pias, tubuhku serasa rubuh tak terkendali. Aku mencoba mengukur diri, apakah setiap kawan yang datang padaku dengan permasalahanya aku bersikap tak peduli pada mereka? Ku rasa tidak, kubiarkan mereka bercerita dan menumpahkan kesalnya padaku. Aku memang tidak memberikan apa-apa untuk menyelesaikan permasalahan mereka, tapi aku hanya bisa menjadi tempat bercerita menumpahkan semua kegalauan hati bagi mereka. Kuulurkan tangan bahwa aku ada disampingnya dia, kuberikan senyuman untuk menguatkannya. Dan itu juga yang hanya aku butuhkan jika aku berada di liku hidup seperti mereka.

Tapi sepertinya Tuhan memang menghendaki aku hanya menjadi tempat ’sampah’ bagi kawan2ku, dan Tuhan menginginkanku untuk menyelesaikan permasalahanku sendiri. Mungkin Tuhan cemburu jika aku menceritakan ini kepada yang lain. Dia hanya ingin aku bercerita kepadaNya. Mungkin disitu kuncinya jika aku harus menjadi introvert seperti ini. Memang mungkin hanya kepadaNya mengadukan semua kesah, dan hanya kepadaNya semua permohonan terucap. Semoga mentariku akan kembali bersinar setelah hujan ini deras tertumpah dihadapan Rabb. Hanya itu yang aku inginkan menjalankan hidup ini dengan ridhoNya.

Sudahlah, ini sudah berkesah namanya. Hujan tak deras lagi dan hanya menyisakan rintiknya. Malam kan mulai menjelang dan menutup mendungnya lagit. Berharap kelabunya hati juga akan tertupi dengan bersinarnya bintang-bintang di langit malam…



Sabtu, Februari 28, 2009

Pa...~part 2~

Legaku mebuncah begitu mendengar suaramu lagi...
Kekhawatiranku sirna berganti begiru kembali mendengar tawamu...

Benar kan Pa? Semua akan baik-baik saja...

Rabb...makasih ya...^_^...
I trust on You...(teramat sangat.. Lav Ya... i'll meet u again in my midnight..)

Pa...~part 1~

Andai saja jarak itu tak ada artinya..
Mungkin resah ini tak begitu membuncah..
Tak tahu apa yang harus ku perbuat disini..

Menghitung sepi dan detik waktu yang tak terhadang..
ingin kurengkuh tanganmu untuk memberi kekuatan..
Ingin kuberikan senyuman, untuk mengatakan kau akan baik-baik saja..
Semua kan baik-baik saja dan kau akan kembali melihat dunia...


Wahai Sang Pemilik Jiwa..
Kutitipkan dia padaMu..

Yang kuat ya, Pa..
Semua kan baik-baik saja...

Rabu, Februari 25, 2009

Lagu Rindu

.......
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan kupasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
.....
Walau hanya nada sederhana
Kan kuungkap segenap rasa dan kerinduan...

Kerispatih ~lagu rindu~


Diamku karena tak mampu lagi berkata..
Diamku karena tak tahu lagi apa yang mau diucap...
walau hatiku ingin seribu kali lebih untuk berteriak...
aku takkan berpaling...

tahukah engkau?


Selasa, Februari 24, 2009

Ketika Kejujuranmu Tertepiskan

Apa yang kau rasakan teman jika ada orang yang meragukan kejujuranmu..
Jika ada orang yang memintamu menjelaskan sesuatu yang meragukannya..

Dan dengan polos kau menceritakan semuanya tanpa ada yang kau sembunyikan..
Dengan harapan, ia akan mengerti dengan keadaan yang kau hadapi..

Tapi tiba-tiba ia lebih percaya logika dan perasaannya dari pada kejujuranmu..

Aneh, sekali, sangat hina sekali kejujuranmu..
Tak ada tandingannya dengan logika dan pemikiran..

Sudahlah..
Campakkan saja kejujuranmu, biar dibawa anjing terkingking-kingking..
Karena tak ada manfaat yang kau ambil darinya...
Lempar dan tenggelamkan saja kejujuranmu ke sungai yang hitam dan kelam..
hingga ia jauh ke dasar dan tak menampakkan diri lagi..
Karena ia begitu rapuh terbunuh oleh hitamnya air...

Diamlah..
Tak usah kau menangis begitu rupa melihat kepergiannya..
Ia sudah mati dan pergi...

Diam, kataku...
Biarkan dia mati..

mati..

Karena tak ada orang yang membutuhkannya..
Dia hanya akan melelahkan mulutmu saja untuk bercerita..
dan juga akan melelahkan hatimu dengan pengharapan...


Senin, Februari 23, 2009

Mereka 'Tlah Pergi



[kdg k’mengertian itu yg slt diungkapkan, but one person has their own way, rght. Jk k’mgrtian itu dpt dipahami, t’ ada lg yg mrs t’skti.. but somethin’ r better left inside,  dont call them secrets, those r understanding..] 

Terpaku kupandangi Princess di sudut kelas. Duduk termenung seorang mengasingkan diri. Hhh... aku mengerti apa yang dirasakannya. Princess yang ceria tak kutemui lagi beberapa hari belakangan. Ada mendung yang bergelayut di mukanya. Walaupun masih tetap tersenyum, dapat kurasakan kegetiran hatinya. Setegarpun wajah yang diperlihatkannya, aku tahu dia terluka. Bukan baru sekarang atau beberapa jam yang lalu aku merasakannya. Sebelum bening itu mengalirpun aku tahu dia terluka.

~Prince..ini nih melodinya... liriknya udah dibikin belum?~

Princess menggeleng lemah, tersenyum getir.

~Bikin dong, Prince... rekaman kita udah deadline kan?~
~Ntar deh, Fair.. hh....~
Kugeletakkan gitar di atas kasur, beranjak duduk di sampingnya.
~Prince... look at me.. I saw u r not so good. I... I.. think ... u... u... have something that disturb ur mind.. hehe...~
Dearly melirik tajam. Princess hanya menyunggingkan senyum. Aku tak mau hanya menerka. Aku juga ingin mendengar dukanya dia.
~Dia ya? Dear...??~
~Coba dimengerti aja, Prince. Sabar ya...~
~O... bukan dia ya? Dia gimana, Prince?~
Hh... Princess beranjak bangkit... menyerahkan selembar kertas..
~Let me alone for a while, please... aku pulang, ya!~

Princess terluka. Yah... duka itu menyapanya juga. Kamu tidak tahu, Princess betapa dalamnya duka itu menyapaku. Hanya hitungan waktu hingga ia menyinggahi hatimu juga. Kalaupun kau lihat aku tertawa itu hanya sekedar cara agar duka itu terlapisi. Aku juga pernah sepertimu, Princess. Atau Dearly juga akan merasakannya jika seandainya mereka tak segera mengambil keputusan. Bukankah kamu yang mewanti-wanti Dearly agar mengambil sikap? Tapi kenapa sikap itu juga yang tidak kamu ambil? Menasehati memang mudah, Princess. Dan itu juga yang ada padaku.

Aku bisa tetap ceria berada di samping kalian... tersenyum... tertawa... seolah tak ada masalah. Itu caraku menghadapi hidup ini,, menghadapi duka yang menyinggahi, walaupun di dalam, goresan itu menyanyat kalbuku.

Jika kularutkan hati ini... mungkin hati ini yang paling rapuh. Tak pernah kubayangkan kalau berakhir seperti ini. Sekaligus kehilangan dua orang sahabat. Hh... masih patutkah mereka kupanggil sahabat? Tak apa... biarlah... aku masih menganggap mereka sahabatku. Aku masih menyayangi mereka. Gyp.... Tse.... masihkah kalian ingat padaku? Masihkah kalian merindukan aku? Apakah rasa ini juga yang kalian rasakan?

Kadang memang ada sedikit sesal terbersit. Kenapa kutolak bunga yang Gyp berikan? Kenapa kualihkan bunga itu pada Tse? Walaupun sebenernya memang Tse yang mengharapkannya. Tapi jika itu satu2nya cara agar kita selalu bersama aku akan melakukannya, asal kalian masih bersamaku. Dengarlah kawan... telah kubuang prinsip yang menurut kalian harus kutinggalkan itu. Aku tahu ia bisa saja memebelengguku. Yah... kalian benar.

~Oke. Aku tidak akan memaksamu, Fairy. Kalau itu akan memberatkanmu, lupakan saja.~
Gyp berlalu meninggalkanku dan Tse. Sedikit kelegaan aku rasakan. Gyp mengerti keadaanku, seperti aku mengerti keadaan Tse tapi Tse gak bisa mengerti keadaanku.

~Kenapa menangis, Tse?~
~Kamu jahat, Fair.... kamu jahat... Tega kamu lakukan itu buat Gyp. Gyp sayang sama kamu...~
~Aku juga sayang sama Gyp... sama sayang aku ke kamu...~
~Please, Fair... jangan bikin Gyp sedih seperti ini. Please lakukan untukku. Aku tidak ingin lihat Gyp kaya begini. Aku sayang sama Gyp....~
~Maaf, Tse... aku akan lakukan apa saja asal tidak yang ini. Aku gak bisa...~
~Kamu egois, Fair... Kamu gak mau ngerti perasaan orang lain. Kamu gak ngerti perasaan Gyp... kamu gak ngerti perasaan aku...~
~Oke.. kalo kamu yang paling ngerti perasaan orang lain, lakukan untuk dirimu sendiri... bilang sama Gyp...~
~Bodoh kamu... yang ada dalam fikiran Gyp hanya kamu... kamu.... kamu.. dan kamu... Dia gak pernah mikirin aku. Baginya hanya kamu...~

Bulir bening di mata Tse mengalir. Harus kesekian kali aku bilang... aku mengerti keadaannya..aku paham.. tapi aku harus bagaimana?

~Harap Gyp hanya buat kamu, Fair. Kata2 Gyp hanya untuk kamu... ingin Gyp hanya buat kamu... walaupun selama ini kita bersama...~
~Tapi sekarang enggak, Tse. Buatlah harapnya sekarang hanya buatmu. Kata2nya hanya untukmu... inginnya adalah kamu. Pergilah Tse. Gapailah Gyp. Dia membutuhkanmu sekarang...~

Kupeluk Tse untuk memberinya kekuatan. Kurasakan adrenalinnya menjalar ke tubuhku. Kurasakan harap itu... kurasakan ingin itu...

~Pergilah Tse... jika aku tidak ada, kalian akan bisa bersama...~

Tse memandangku. Kulihat kecerahan di mata basahnya. Aku mengangguk. Tse melepaskan genggamanku... perlahan... hingga genggamanku kosong. Tse berlari kecil menjauhiku... perlahan... hingga bayangannya hilang. Tercenung kurasakan kesendirian ini. Mereka tlah pergi.

Sebuah sentuhan menyentuh pundakku. Princess tersenyum. Binar matanya dapat kulihat lagi. Aku rasa Princess memahami kemengertian itu. Kemengertian akan sebuah kehilangan. Kehilangan orang2 yang mengisi keping hati. Princess mengerti... aku mengerti... mereka tlah pergi...





Senin, Februari 16, 2009

Dear Diary ~9 Feb '09~

07.00
Pagi ini cha berangkat ke kantor seperti biasa. Bangun kesiangan karena tidur lagi abis subuh, buru-buru mandi, dandan ala kadarnya, dan tuk-tuk tuk nurunin tangga. Dan juga seperti biasa teriakin mbak war untuk pamitan.

07.50
Tapi tetep aja, nyampe di kantor hampir selalu nomor satu sejak ditinggal pak tanto dan mbak sum. Nyampe ruangan, keluarin bekal dari dalam tas, nyalain komputer dan cek hape. Eh, ternyata mas rudeng sms, dia gak masuk hari ini karena lagi ga enak badan. Yah, kerja hari ini tanpa bos. Ada enak dan gak enaknya. Enaknya, cha bisa aja ngenet seharian tanpa ngerasa gak enak ato sungkan, secara ga ada bos gitu loh, hehehehe...
Gak enaknya ya...kalo ada yang harus diselesaikan atas nama CR dept, cha yang harus turun tangan sendiri nyelesein. Dan harus berani ngambil keputusan sendiri.

Sudah, hadapi saja. Ayo cuci gelas, mau nyarap nih...oke..oke...

08.00
Teh panas cha udah diseduh..mm..tinggal beli rotinya. Ntar beli bareng mbak ema aja...
Cek imel...login...password...yup...
Yah...ga ada imel baru... Anas kok gak ada ngimel lagi yah...apa sibuk kali ya/
Yo wisss....aduuh...kebelet iis...Ke toilet dulu ah....

08.15
Balik dari toilet, eh, mbak ema ama dokter udah pada duduk manis di mejanya masing-masing. Dokter lagi sarapan, sepertinya bawa bekal dari rumah. Ih, dokter kok ga nawarin sih? Hehehe.... mbak ema sibuk ngurusin mutasi-an kayanya...Cha duduk di kursi cha mandangi komputer..lirik mba ema sebentar, perhatiin apa dia beli sarapan. Sepertinya enggak.

Ssrrruupp....ssrruuppp... cha menyeruput teh panas yang udah agak dinginan. Lirik mbak ema lagi. Kali ini mbak ema udah duduk tenang di mejanya..
‘mbak...’
‘ya?’
‘laper...’
‘hehe..iya saya juga. Gak beli sarapan nih...beli apa ya? Beli arem-arem aja yuk di tempatnya mba erwin?’
Cha menggeleng, ‘ gak mau arem-arem..’
‘gak enak ya?’, tanya mba ema
‘gak suka sa..’
Tiba-tiba mba ema tersenyum, ‘beli roti di koperasi aja yuk..’
Mata cha berbinar, mba ema emang mba yang paliiiiiinnnggggggg ngertiin cha, hehehe....

Beberapa menit kemudian, cha ngintil seperti biasa, ikut kemana mbak ema pergi...hehe...
Pokoknya ikuuttt aja...untungnya ke toilet bisa sendiri, kan repot kalo harus ikut ngintil juga ke sono.


09.00
Satu buah roti isi ayam udah pindah ke dalam perut cha. Teh panas udah cukup menghangatkan mesin tubuh cha. Ayo, mulai beraktivitas. Hehe..dasar karyawan bandel yah...masuk pukul 08.00, eh, baru mulai kerja jam 09.00, hehehe....
Maaf ya bos....

Cha input data chemical inventory list dari warehouse chemical. Ada material baru gak yah? Mata cha sibuk pelototin komputer dan jari cha sibuk mencocokkan dengan laporan dari warehouse.

Tenenenet.....
Cha cuek aja, tetep konsen ke komputer. Ada mbak ema ini...
‘Cha...’ panggil mbak ema sambil ngacungin gagang telpon

Cha mendongak, berasak ke meja mbak ema..
‘alo..’
‘sha..hari ini tim 5S mau survey ke WWTP. Kamu bisa kesini sekarang ga? Aku di WWTP sekarang.’
‘sekarang?’ tanya cha gak mudeng, belum konsen cha, si dian nyerocos mengenai masalah apa.
‘iya bu. S e k a r a n g...’ sepertinya dia nyadar kalo cha gak 100% dengerin omongannya dia
‘iya deh...’
‘cepet ya bu..aku gak ngerti harus ngapain, pak awan gak masuk.’
‘walah...wwtp punyamu kok... iya..aku kesana sekarang...’
Klik..cha menutup telpon.

Pencet tombol ctrl+s di kibor, ambil pena dan agenda.
‘mbak..sa ke wwtp...’, pamitan dulu sama emaknya CR..hehehe...

09.30
Dari nyampe di wwtp tadi sampe sekarang hanya liat-liat aja yang mau dibenahin, soalnya gak banyak yang harus dirapihin. Udah rapi and bersih ini, kecuali mungkin barang-barang kepunyaannya Engineering dept perlu dikembaliin lagi.

Mas Yudi, EHSnya hotpress, yang juga anggota tim 5S, bukannya motoin tuh rak-rak malah sibuk ngarahin kameranya ke cha...walah...mo nyuri2 buat moto cha ya...heheh...jadi grogi cha...

10.00
Tim 5S selesai survey, Dian balik ke ruangannya. Cha ngintil pak edi, bos nya wwtp ke lab. Cha liat data hasil pengukuran diatas meja. Ternyata pak awan sakit dari hari sabtu, cerita pak edi. Bener juga, hari sabtu gak ada data hasil pengukuran.

Cha deh yang turun tangan sekarang lakuin pengukuran. Ngambil gelas ukur 1 L, ambil gayung, manjat bak aerasi, ambil sludge. Trus ambil gelas ukur 500 mL, nungging di bak sedimentasi, ambil air outlet.

Cha sibuk nganalisis sambil ditemani Pak edi. Pak edi keluar sebentar kemudian balik lagi bawain kacang kedelai buat cemilan, heheh..makasi ya pak...

11.30
Cha selese nganalis, balik ke ruangan lagi...
Ceklek..baru buka pintu,
‘Sa..mbak Yuni minta laporan ke BLHD sekarang...’ lapor mbak ema
‘laporan B3 ama IPAL? Bukannya udah sa kasih ke mbak?’
‘hehe..iya, tapi masih belum saya ambil dari fotokopian. Kan saya jilidnya di pasar kemis..’
‘mbak Yuni mo berangkatnya kapan?’
‘nanti abis makan siang..biar deh ntar lagi saya ngambil ke sono’
‘oo. Iya deh..’
‘trus mba Yuni bilang, laporan ke kementrian di Jakarta Rosa yang nganter, soalnya mbak Yuni sekarang banyak kerjaan..’
‘Lho kok sa? waduuuuhhh... sa kan bisanya cuman bisa bikin aja...’
Mbak ema tersenyum ngangkat bahu. Bibir cha maju tiga senti lagi...

Hape mbak ema berdering. Telpon dari pak tanto. Eh, pak tantonya juga pengen ngomong ama cha. Ada apa ya?
‘ya, pak..’
‘Rosa apa kabar?’
‘hehe..sa baik Pak, alhamdulillah. Bapak gimana kabarnya? Baik-baikkah?’
‘baik...eh, Sa, kamu mau kerja di konsultan gak? Tapi kamu emang harus sering keluar kota gitu. Masih lajang kan..??..’ pak tanto ketawa..
Gubrakkk...pikiran cha langsung inget Aling....

12.00
Cha ngintil di belakang mba ema lagi ngantri di dapur ngambil makan siang. Goreng ayam kentucky ama sayur sop bening...lumayan enak...

12.20
Selesei makan, ngenet ah,...cek imel yahoo...juga pengen liat blognya Aling...
Eh, aling kok gak ada kabar sepanjang tengah hari ini ya?...kan udah puas ngobrol seharian kemaren...iya yah...heheheh.. dan pikiran Cha melayang lagi ke tawaran pak tanto tadi. Aling ijinin gak ya/...pppfff....

15.00
Cha selese input chemical inventory list. Tinggal dipoles dikit. Tapi besok aja deh dilanjutin, cha mo ngenet aja buka FS.

Tetenenenettt....telpon CR berdering lagi.
‘Sa... ada masalah air lagi nih. Dari sewing nih...’ mbak ema ngacungin gagang telpon lagi..
Cha sebenernya udah bosen dengan masalah air minum di departemen. Dengan berat hati Cha meluncur ke PSW dept untuk investigasi. Bibir cha maju lagi tiga senti. Ya iyalah, udah lewat jam tiga ini, kan jaadwalnya siap-siap mau pulang.

15.45
Cha kembali ke ruangan, dengan membawa barang bukti temuan. Rencananya abis ngedownload cha mau sholat dulu. Trus baru bikin laporan hasil investigasi. Kirim ke mas rudeng by mail. Tapi susahnya cha bikin rencana di sepanjang perjalanan dari PSW ke office, berantakan semua ketika masuk ke ruangan.

Baru buka pintu, mbak ema udah minta cha untuk klarifikasi mengenai tagihan Unilab. Tapi ada kabar baiknya, besok cha bisa dapetin hasil pengukuran yang udah tertunda dua bulan. Jadi cha bisa secepatnya nyelesein laporan monitoring UKL UPL. Siipp dah...

Trus, bunyi lagi telpon CR nyariin Cha. Ternyata pak hery..bilangin kalo ada imel yang harus di send ke Nike segera. Tapi mas rudeng gak ada, waduhhh gimana ini.... Cha belum sholat lagi... gini nih kalo jadi transtool, walopun ada mas rudeng, cha pasti tetep harus ada buat nerjemahin.. akhirnya dengan setengah keterpaksaan dan gak enak hati sama mas rudeng karena ngelangkahin, cha tetep bales imel Nike dengan petunjuk dari pak hery. Bismillah pede aja kali cha...

16.15
Imel ke kirim, cha minta tolong pak barjo buat ngedownload foto investigasi cha. Cha ambil wudhu dan berlalu ke mushola. Sholat ashar dulu bukk. Pak hery nungguin cha buat pulang bareng. Dia bertanggung jawab nganterin cha karena udah gangguin jam pulang cha, katanya...walah....

16.35
Cha pulang di anter pak hery sampe Cimone. Di perjalanan pak hery cerita soal anaknya yang jago banget main gitar dan piano. Cerita soal anaknya yang pendiam banget tapi berprestasi di sekolah. Tentang keinginan anaknya sekolah ke Ostrali. Cha hanya nimpali dikit-dikit.. trus pak hery juga curhat mengenai kerjaan...
Hehehe...cha hanya nyengir-nyengir aja....

18.20
Cha nyampe di kos. Sms mas rudeng, buat ngasih tahu sekalian minta maaf kalo dia kurang berkenan dengan tindakan yang cha ambil tadi. Juga sms aling, ngasih tahu kalo cha mau nelpon dia pagi bicarin mengenai tawaran kerja dari pak tanto tadi.

Mas rUdeng gak bales sms cha. Marah apa ga ya? Aling malah call me..ya udah deh, biarin aja, cha mandi dulu....

Byur..byur... selese mandi, sholat maghrib, nanak nasi..waduuhhh...cha lupa beli lauk, kan tadi dianter pak hery, cha ga inget harus singgah ke ruumah makan padang dulu...
Jadinya cha makan mie goreng aja akhirnya..untung masih ada persediaann..

Ddrrrppp....drrppp...hape cha diatas meja begetar...
Aling sms, ngebilangin kalo aling lagi sakit kepala, gak enak badan...
Aduuhh...aling atit, gimana mo ceritain masalah ini, kalo sekarang aja kepala aling udah sakit...walah...walah...
Cha nyaranin aling pulang aja, istirahat, ..
Eh aling sms lagi nanyain apa yang mo cha omongin..
Ya udah cha bilangin kalo cha dapat tawaran dari pak tanto, tapi dari balesan sms aling, dia sepertinya kurangg berkenan...ppfff...aling selalu kaya gini...cha jadi bingung....

19.00
Cha makan malam pake mie, sambil nyalain laptop, bikin cerita ini....

21.50
Whuss....whuss......
Tik...tikk....pyurrrr.....
Hujan lagi tangerang.............


Dear Deary ~6 Feb '09~

Sehari ini Cha ngapain aja coba, ayo kita runut sebelum tidur.. yah sapa tahu ada sesuatu hal yang bisa dijadikan pelajaran esok harinya..

04.00..
Walo mata cha masih terpejam, tapi cha udah sadar kalo di luar angin bertiup kenceng banget, kurang tahu sih kalo ujan apa gak. Akhirnya, walopun udah sayup-sayup terdengar suara dari mesjid untuk ngebangunin orang-orang, cha cuek aja narik selimut lagi buat kembali bermimpi indah. Dingin banget soalnya..hehehe...

Maaf ya, Rabb...bentar aja...satu jam aja...zzzzz....zzzzz....

05.30
Wuitsss....ayo mana janjinya Cuma satu jam, kelewat setengah jam, neng.....
Aduh, minta maaf lagi deh... kalo Rabb berwujud, pasti udah digetok kepala cha pake gayung yang sebelumnya dipake buat nyiram cha pake air...
Waa.......ayo bangun...eits....ada seseorang yang minta dibangunin...(ayo ciapa...hehehe), pasti dia ketiduran juga...
Tuuutt....tuuut....(mata cha masih terpejam...)

Terdengar erangan baru bangun di seberang sana...tuh kan bener...ternyata emang baru bangun. Bangun chayang....hehehe....

05.40
Ceklek...(itu bunyi kunci pintu kamar cha) udah jangan banyak cerita, ayo..udah siang ini..
Wuss...dingin banget kerasa begitu kaki cha mulai melangkah keluar kamar. Uugghhh... air juga dingin tapi mata cha kok gak melek-melek juga yah.....setan nya ketiduran juga kali yah di kelopak mata cha...ketiduran juga di sono meringkuk karena saking dinginnya....

Balik ke kamar, dinginnya makin menyergap karena udah ditambah dengan basahan air. Pasang langkah seribu nih..

Sholat dengan mata merem-melek....allahu akbar....

06.00
Abis sholat balik lagi ke kamar mandi. Lho ngapain? Ya mandilah... udah jadwalnya, say...
Byur...byur...plup..plup....(hayo..itu bunyi apa? Hehehe....)

Badan seger, mata udah seratus persen melek...balik ke kamar...pakaian..jilbaban. bedakan..lipstikan..(hehehe..yang ini gak ding, bibir udah seksi ini gak usah dipoles lagi..)

Satu menit sebelum pake sepatu, ngaca sekali lagi dong, ck..ck... udah cantik....

Yup, ambil sepatu di rak2, si eagle ijo abu-abu siap menemani langkah kakiku.....

07.00
Turun tangga, eh tapi sebelumnya kunci kamar dulu...
‘berangkat , mbak war...’
‘bawa payung, mbak Rosa’, teriak mbak war..
‘ga ada’, sahut Cha terus berlalu..
Pasti mbak War ngomong, ‘nih bocah satu bandel amat, dipinjemin payung tongkat gak mau, tapi tidak jua kunjung membeli payung lipet..dasar bandel...ntar demam lagi..musingin saya lagi....’
Hehehe....maaf ya Mba War....emang nih si Ocha bandel banget, sok kuat, kalo saya jadi mbak War pasti udah tak beliin payung dia’ walah......

Gak perlu payung ngerepotin aja, si mantel kuning siap melindungi kok, malah lebih gaya lagi...gak perlu sok feminim dengan megangin payung, ribeeetttttt.................

Si abang sopir angkot sudah menunggu di depan gang. Bismilah..ayo bang, tarik....

07.20
Baru nyampe Cimone nih...kiri, bang....kiri, bang...kiri...(uhh, si abangnya gak denger) Maklum suara Cha halus dan lemah lembut banget, sehingga nyampe di kupingnya si abang sayup-sayup sampe di bawa angin, eh, malah anginnya kenceng banget sekarang jadi si suara gak sempet singgah di kupingnya si abang...untungnya ada ibu-ibu yang nolongin sampai-sampai si abangnya kaget diteriakin si ibu...wakakaakk...

Turun dari angkot 02 nyambung lagi ama si putih 08. Ppff..bener2 jauh ku harus mencari sesuap nasi itu ampe ke kabupaten Tangerang, secara Cha kos di kota Tangerang gitu loh..
Gak ada hal menarik sih sepanjang perjalanan ke Pasar Kemis, palingan ya harus sabar jika macet menghadang. Siap-siap untuk jalan kaki kalo si sopirnya ga sabaran nungguin, ato kalo Cha ngerasa jemu diatas angkot. Tapi pagi tadi ga , lancar ...wesss........

07.45
Nyampe aing di kantor..eits, absen dulu...’tengkyu’ jerit si mesin fingerprint..
Oke...u r welcome...cuk kucuk kucuk....ngerling dikit ah, sapa tahu samesame udah dateng...lumayan penyegaran .... mirip Aling banget sih...heheheh....

Tuh kan, pasti cha yang nyampe duluan. Mas rudeng pasti belum dateng, mbak Ema kan lagi cuti. Dia harus ngurusin 3 orang yang sakit di rumahnya, suami, anak, ama mertua..waduh....sabar ya mbak....

Cuci mencuci gelas dulu ah, trus bikin kupi buat sarapan ama roti coklat...mmm.. yummy...

08.03
Pintu terbuka pas sewaktu cha menghirup wanginya kupicino.. si komputer lagi mengeliat untuk bekerja.
Mas rudeng masuk dengan tersenyum, lagi seneng kayanya... Cha juga bales senyumnya..
Eh, cha ke toilet bentar ah...

Balik dari toilet, si gebot hape cha bernyanyi...ada sms masuk...dari sapa yah...

Mas rudeng ngelirik...’dari yayang tike nih...’ candanya. Cha hanya nyengir...eh, ternyata ..
Dibecandain abis cha ama dia...’masih pagi nih sha...’katanya..
‘biarin...’ jawab cha cuek....Jarang-jarangnya Aling sms jam segini.
Bales sms Aling beberapa detik..yup..send....

Kembali ke komputer. Data chemical expossure dari EHS harus Cha input segera....
Lets start working Cha....

Baru beberapa menit Cha melototin komputer, eh, terdengar mas Rudeng cekikikan ama ceweknya di telpon...walah...lagi kencan dia... sebel..
Eh, sms Aling juga ah..
‘Aling lagi ngapain? Tadi aling sms diledekin ama mas Rudeng, eh, sekarang dianya lagi nelpon ceweknya..masih pagi gini gitu loh...’

Send...pesan delivered...
Sambil menunggu balasan Aling, kembali pelototin komputer...pelototin kertas form nya EHS..aduh...ini bacaannya apa lagi..pelototin komputer lagi...balik ke kertas form lagi...lirik hape sekilas...kok Aling belum bales sih.....balik pelototin form lagi...

Lampu hape cha nyala, dering sms masuknya berbunyi...aling ngebales....
‘Cha cemburu ya?’

Walah, aling nggak ngerti nih, kalo Cha juga pengen di telpon. Itu bukan cemburu namanya tapi iri, masa aling gak bisa bedain sih ... yo wis... kerja aja lagi...Aling pasti lagi di jalan sedang ngeliput. Gak usah gangguin dulu... back to your work....

Kerja..kerja...


10.00
Tenenet...tenennenet....(itu bunyi telpon di kantor Cha...)
O iya mba ema gak masuk hari ini, jadi cha yang ngegantiin tugasnya jawab telpon..
‘alo...’
‘mbak Rosa ya?’
‘yo ha...sapa nih...ada apa pak?’
‘mba Rosa, ‘
‘mm...’
‘saya minta MSDS paraffin wax mbak.. ada audit lagi siang ini.’
‘oke. Diambil ya Pak...’
‘kalo SIR 3 L, mbak?’
‘aduh, belum ditranslate nih, Pak. Baru dapet Sa originalnya.’
‘kalo abis makan siang bisa selesai gak, mba..’
‘oke..sip dah...’
‘oke juga. Tenkyu mbak rosa...’
‘yo ha...’

Berarti untuk sementara update chemical expossure dipending dulu. Beralih ke MSDS...

Tenenet..nenet..tenent...
Uhh..ni telpon gak bisa nganggur dulu apa...
‘low..’
‘rudinya ada?’
‘eh, ada. Ditunggu ya Pak...’
Walah...mas Rudengnya masih cekikikan ama ceweknya....
‘mas Rudeng telpon....’

Tok...tok...ada yang ngetuk pintu tuh...celinguk ke pintu... Pak Awan, operator WWTP masuk... pasti nyariin cha. Tanpa disuruh, pak awan udah ngambil kursi plastik duluan dan duduk di deket Cha. Benar kan? Kalo orang penting itu pasti dicariin...secara udah beberapa hari ini cha gak ke WWTP, heehehe.....
‘kok gak ada ke WWTP lagi, mbak?’
Tuh bener kan..apa aing bilang...
‘hehehe...lagi benahin dokumen buat audit, pak, jadi belum sempat ke sono.Tapi Arie ada ke situ kan?’
Pak awan mengangguk...’saya lagi pusing, mbak...lagi males...mo ketemu bos sih, bilangin soal CP yang rusak itu’
‘O iya, soal CP blowdown boiler itu Sa udah coba tanya ke temen, katanya kita bisa pakai nitrat untuk mendispersikan endapannya. Tapi sa takutnya nitrat kita tambah naik jadinya. Sa belum sempat ngomongin ini ke bos.’
‘kalo dibuang saja gimana, mbak?’
‘itu limbah kimia, Pak. Seberapa bahayanya ke lingkungan kan kita gak tahu. Lagian kalo bisa dijadikan nutrisi bagi bakteri kita di wwtp kan malah lebih baik. Kan? Sapa tahu SVnya bisa meningkat.’
‘iya juga ya, mbak. Sekarang SV naik 20 ml/L , mba..’
‘o ya? Bagus deh..’

Pak awan sepertinya mau berasak pergi, ‘ya deh, mbak, saya ke tempat bos dulu..’
Cha mengangguk...

Beberapa menit ngobrol sama pak awan, membuat cha mikirin lagi soal taman bermain itu. Udah seminggu ini cha gak maen ke situ nengokin bakteri. Pasti mereka pada kangen kali yah... bukan masalah sibuk sih sebenernya, tapi ngerasa ada sedikit perbedaan aja..ngerasa ada yang tumpang tindih dan pengalihan fungsi job aja. Yah biasalah...ntar juga baik sendiri hati ini...kecewa? sedih? Heheheh...dikit sih...

Sudah, back to MSDS...

11.35
Mas rudeng nanyain kok internet di komputernya gak mau connect2. Bosen nungguin dia ngajakin ngobrol soal ceweknya. Mulai dari kebaikan ceweknya, perhatian ceweknya ampe jelek ceweknya. Biasalah curhat..ternyata cowok juga suka curhat ya..aling juga sering kaya gitu. Padahal yang dicurhatin mas rudeng sepertinya udah pernah diceritain sebelumnya deh kayanya. Apa cha yang terlalu baik sebagai tempat curhat atau cha yang gak pernah mudeng dengan ceritanya dia ya? Hehhehee....

12.00
Ikutan antri di dapur ngambil makan siang...
mm...gulai cancang padang...enak kayanya...

Balik ke ruangan, mas rudeng ngelongok ke tempat makan cha.
‘mau juga dong Cha, ambilin aku juga yah...males nih...’

Dengan bibir maju tiga senti cha nurut..gini nih kalo jadi adik paling kecil di CR. Balik lagi ke dapur, ikutan ngantri lagi. Gini juga kalo mba ema gak ada...

Untung nyampe di dapur orang-orang pada gak ngeh kalo tadi cha udah ngambil. Kalo ada yang nanya kan cha harus jelasin kalo ini buat mas rudeng. Lha ketahuan dong kalo sebenernya jatahnya mas rudeng gak di sini tapi di kantin.

Sebenernya cha dulu, makannya juga gak di dapur, tapi di kantin bareng mas rudeng. Ceritanya cukup panjang kenapa cha males makan di kantin lagi. Pengen tahu gak? Pengen aja yah, soalnya biar ceritanya jadi nyambung gitu...kalian ngebacanya juga enak...ya ga?

Gini, dulu cha makan siangnya kan di kantin bareng dengan staf-staf khusus, supervisor, ass supervisor dan kabag departemen. Canggih gak tuh...?? pertama cha masuk kerja makannya emang di situ, apalagi menunya ada tambahan kalo dibandingin makan di dapur. Trus juga masih ada temen, Fitri anak E2 dept. Kita deket banget, sobat cha di kantor lah. Sampe mas rudeng bilang kalo kita soulmate. Orang-orang produksi juga mikirnya kita adek kakak. Fitri kakaknya, cha adeknya, hehehe..lucu yah...padahal dari usia tuaan cha 23 hari. Kita sama-sama cancer. Mungkin karena Fitri lebih kalem dan jilbaber tulen jadi kelihatan lebih dewasa. Kalo cha? Dibilangin anak PKL pernah...dibilangin mahasiswa magang pernah...dibilangin anak TK nyasar masuk NASA juga pernah...kejam banget gak tuh.. seimut apa sih ocha? Wakakakakaka.................

Nah, tubi kontiniud....Fitri keluar. Cha kehilangan temen. Kehilangan sobat, kehilangan kakak dan tempat curhat. Makan ke kantin pun malas jalan sendiri, padahal di kantin pun ntar juga ketemu ama temen-temen yang lain. Tapi bener kata mas rudeng, kita tu soulmate banget, cha ngerasa kalo Fitri gak makan di sono, cha juga gak mau makan di sono...nah lho...jadilahh, cha bawa tempat nasi dari rumah, mulai ikut-ikutan mbak ema ngantri di dapur, sampe akhirnya cha ditanyain, mo makan di kantin apa mo pindah di dapur aja ama GA. Dengan mantap cha jawab, cha makan di dapur aja. Tau gak alasan lainnya kenapa? Hehehe..karena...tiap minggu cha bakallan dapet indomie gratis.....wakakakakakakak...

Gitu ceritanya. Then, balik lagi ke kegiatan cha..sambil makan, ngenet ah....rencananya mo bikin blog di blogger, trus ngecek imel di yahoo, ngecek FS juga, sapa tahu ada yang add lagi.. Mas rudeng tepar di mejanya..bobok ciang....

13.00
Asyik ngenet, gak terasa jam istirahat udah lewat. Waktunya cuci piring and sholat...

14.00
Getar hape cha merambat sampe ke meja..drrrddpppp....drrdrdrrrpppp..
Celinguk dari siapa..Aliiinngg sms....hehehhe.....
‘dah makan siang?’ tanya aling..
Reply dong cha.. iya nih lagi di reply...
‘udah, aling? Skrg dmn?’ send..message delivered..

Nunggu balesan sms aling sambil pake kaos kaki. Iya soalnya tadi kan sepatunya di lepas mo sholat...o iya yah.... happe cha bergetar lagi....dddrrrpppp...drrrppp..
‘skrg aling lg d bus kmps, ada acr di kmps unand. Blm smpt mkn nih....’

Aduuhh...aling terus gitu, kalo sakit gimana? Bikin khawatir cha aja...ceile....
Bales ah, urgent ini soalnya. Ntar aja pasang kaos kaki yang sebelah kiri..
‘kok aling blm mkn? Ini kan udah jam dua. Ntar nyampe kmps aling mkn ya..’

Send..message delivered..lanjutin kembali pasang kaos kaki sebelah kiri. Trus pasang sepatu. Ih...aling gak bales lagi... lanjut kerja lagi....

14.55
Bosen nih kerja mulu, pengen refreshing...ngenet lagi ah, lanjutin bikin blog di blogger..
Liat cha udah berpindah komputer, mas rudeng nanyain lagi’ emangnya internetnya jalan sha?’
‘jalan’, jawab cha singkat
‘kok punya ku enggak ya sa? Apa diblokir ya?’
‘kenapa emang sampe di blokir? Sering buka situs yang enggak2 sih...ketahuan IT kali..’
‘enggak, mungkin karena kemaren aku seharian ngedownload terus ya..dari pagi sa, ampe sore..’
‘oo..nyari lagu-lagu zaman baheula itu ya...’
“ho oh...’
‘iya kali’,
Ih, mas rudeng gangguin konsentrasi cha aja, cha lagi serius bikin blog ini, lagi posting tulisan..
‘padahal kabelnya udah kita ganti ama punyaku kan sa?’
‘ho oh..’, jawab cha cuek
‘apa karena pengaruhh tempat ya sa?’ (Mas rudeng pindah ke bekas mejanya Pak tanto, menejer CR dulu)
‘iya kali, kalo orang pindah rumah kan harus selametan dulu, makan-makan dulu..’
Hehehe...bener kan?
‘sembarangan kamu...’


15.40
Blog cha udah jadi...dan dah ada postingan pertama. Cuman semacam prolog pembuka lah. Belum keren sih blognya, masih virgin banget. Upss..bentar lagi pulang...sholat dulu ah...eh, samesame udah lewat belum yah...hehhehehe......

Lepas sepatu dan kaos kaki lagi, pake sendal menuju toilet untuk ngambil wudhu...
Mas rudeng hanya ngeliatin cha bolak balik ruangan, keluar ruangan buat ngambil wudhu, masuk lagi ngambil mukena, keluar lagi buat sholat, eh masuk lagi selesai sholat..ya buat pulang pake sepatu, beres-beres dan ngambil tas....
Yukk...mari pulang,.....

16.09
Udah mulai melengang, barcode fingerprint juga ga ada yang antri. Lebih enak sih pulang jam segini, gak rame ngantri. Cha jalan perlahan menuju gerbang. Sebelumnya sempat diperiksa tas ransel gebot cha ama security. Mencurigakan kayanya...yah sapa tahu ada yang masukin sepatu Nike ke dalam ransel cha.

Setelah isi tas cha diyakini tak ada sepatu Nike, cha lolos melewati koridor menuju keluar. Udah gak rame sih, tapi masih ada beberapa yang belanja kebutuhan buat masak sore. Biasanya sih dipenuhi ama ibu-ibu atau mba2 pedagang yang berjualan disepanjang jalan agarindo di dekat pabrik.

Potong jalan melewati gang belakang klinik bersalin, singgah ke rumah makan padang langganan beli makan malam. Si uda udah senyum-senyum menyambut kedatangan cha. Selesai transaksi, celingak celinguk nyariin angkot yang ke Cimone.

Nyebrang jalan, yups....langsung naik...bismillah lagi biar selamat di perjalanan....Angkot 08 melaju menuju cimone, tapi terhadang macet di depan pabrik Pan brother, apparelnya Nike. Ini yang ngebetein. Macet yang gak tahu juntrungannya. Macet hanya nungguin angkot di depan yang ngetem buat jalan. Kurang ajar banget gak tuh. Nyengsarain banyak orang hanya untuk kepentingan pribadi. Kalo mo nungguin penumpang, ya minggir ke tepi dong, eh mereka malah melintangi mobilnya di tengah jalan untuk bersaing ngedapetin penumpang. Belum lagi yang bikin gondok, si sopir di belakang antrian kemacetan yang gak sabar nungguin macet, seenaknya nyuruh penumpangnya turun karena dia gak mau nungguin macet dan mau putar arah. Malah minta bayaran lagi. Kesewenangan mereka yang sering bikin orang-orang ngomel di pagi hari atau ditengah kecapean orang-orang pulang kerja. Godaan kesabaran bertebaran di kota paling parah di Indonesia ini. Bukan hanya tata kotanya yang perlu di benahi tapi juga perilaku masyarakatnya. Jadi kangen ama Padang kalo udah kaya gini. Tapi kalo inget duitnya, Tangerang is so kind for giving me a chance to get a job. Tenkyu yah, Tang....


Sunyi

pict from here Kau tanya, apakah aku baik-baik saja setelah kau bercerita tentang gelisahmu menyapu malam? Beringsut nafas memburu, b...