Minggu, Januari 09, 2011

Fragile (1)




Ketika tut-tut ini ku tekan satu persatu,
tekanan perasaan itu semakin menyesakkan
Ingin kulepaskan rasa ini, 
tapi kepada siapa?
Aku tak tahu,,

Aku kecewa,,
Dalamnya kecewa ini hingga ku tak sanggup untuk kuasa bangkit.
Aku rapuh,,
serapuh jiwa yang teronggok meninggalkan asa

Dizalimikah aku?
Bukan aku
tapi hatiku

Ia tahu aku berharap padanya, 
sementara ia bingung kepada siapa setengah jiwanya aku titipkan
Sementara tempat yang kurasa istana baginya menolaknya dengan manis seraya berkata..

“Tuanmu telah salah menitipkanmu padaku..”
Dan hatiku terhenyak, tersedu meraungi nasibnya.
Kasihan,,
sungguh kasihan,,,




Jumat, Januari 07, 2011

Menahan Senja


Lembayung bertahanlah,,
biarkan aku menikmati senjamu,, 
Aku tak tahu, bulan akankah datang malam ini, 
karenanya biarkan aku menemanimu di penghujung hari,,
 
 

Sabtu, Januari 01, 2011

Baru Kan Kujelang, 2011

Dentuman itu mengagetkanku. Bunyi terompet bersahut-sahutan. Ribut sekali di luar sana. Sembari terus menulis, aku tersenyum tipis  melirik jam di sudut kanan bawah laptop. Sudah pukul 00.01. Pantas saja begitu ribut di luar sana.

Tak ada yang berbeda dengan tahun-tahun baru sebelumnya. Tak ada perayaan spesial yang aku lakukan untuk menyambut kedatangannya. Seperti biasa, aku biarkannya berlalu begitu saja. Tapi kehebohan di luar sana juga mengusikku untuk sekedar mengetahui kegembiraan mereka.

Memandang langit cerah malam ini, semakin indah dengan hiasan kembang api yang dilepas ke angkasa. Malam yang di detik-detik pergantiannya dinanti-nanti banyak orang. Aku sendiri tidak tahu, apakah aku juga menantikan pergantian tahun ini atau tidak. Bagiku, PR yang harus aku selesaikan masih banyak. 2010 menyisakan banyak hal yang masih harus aku lengkapi di tahun ini. Aku tak memikirkan target yang harus aku capai, karena tak mau terbeban dengan segala ruwet permasalahannya. Bukannya tak mau mewarnai hidup dengan bergiat menggapai target, tapi hidup adalah untuk dinikmati, karena ia hanya sementara. Dan aku tidak mau membebani pikiranku dengan pencapaian itu. Bagiku, segala apa yang ada dihadapanku, baik segala kemudahan dan kesukarannya harus dihadapi. Bertarung untuk mendapatkan apa yang aku harapkan.

Yah, harapan,,

Tentu saja aku punya harapan dan keinginan. Tapi cukuplah hanya Rabb mendengarkan apa pintaku. Aku hanya berusaha untuk menggapainya. Entah kapan bisa terwujud. Aku percaya bahwa semua itu ada waktunya, tak perlu di targetkan. Karena aku sudah merasakan bahwa sesuatu itu indah pada waktunya. Tak perlu dipaksakan. Asal ikhlas menjalani dan tetap berjuang untuk meraihnya.


Selamat tinggal 2010,,
Terima kasih sudah mewujudkan kegagalan dan mengobati kekecewaanku di tahun sebelumnya,,
Dan terima kasih sudah mengiringi langkahku menjalani hari di sepanjang waktumu,,


Welcome 2011,,
Harapanku besar terhadapmu,,
Karena banyak PR kehidupan yang harus aku angsur di hari-harimu,,
Mudah-mudahan baru yang kujelang akan selalu indah bersamamu,,
Semoga!!


Jumat, Desember 17, 2010

Berasaklah, dan pergilah melaut lagi,,!

www.kacamatabolong.blogspot.com


Seekor pipit terbang merendah dan hinggap di tiang kapalnya. Sekejap ia memandang, pipit kembali terbang mengikuti kawan-kawannya. Tapi Re tak lepas memandangi laju terbangnya si pipit dan ekor matanya terus mengikuti kepak sayap mungil si pipit. Sudah semakin jauh si pipit terbang ke utara hingga tak terjangkau lagi oleh pandangan matanya, Re kembali menekur. Mencoba menghitung pasir di dalam genggamannya. Lelah menghitung, Re terdiam lurus memandangi samudra di hadapannya. Sore ini tak berangin hingga tak ada ombak besar yang pecah ke pantai.

Re mamandangi kapalnya. Badannya masih kokoh membusung. Kilapnya masih bercahaya terkena sinaran matahari sore. Tapi segagah apapun ia sekarang, tak ada gunanya jika ia tak bisa membawa ikan pulang dari melaut. Itu karena tiangnya yang patah terkena hempasan angin. Dan Re belum juga memperbaikinya hingga sekarang. Ia hanya sebuah bangkai yang teronggok di hamparan pasir memandangi kapal-kapal lain yang hilir mudik melaut. Iri sebenarnya mengusik, ia ingin melaut, menemani Re mencari ikan. Tapi entah apa salahnya, usaha Re mendandaninya dan membuatnya segagah bahtera, tak kuat menahan terpaan angin di tengah badai. Dan Re selalu pulang dengan tangan kosong.

Sejak itu, Re tak bergairah lagi dengannya. Tapi kadang Re datang menemaninya menyepi di tepi pantai. Kadang Re masih mengusap-ngusap lambungnya. Kadang Re duduk disebelahnya mengajaknya bertukar cerita tentang masa-masa indah melaut bersama. Masa-masa berpetualang menaklukkan samudra walaupun hanya ikan-ikan kecil yang mereka dapatkan. Dan sekarang Re larut dalam diamnya.

Di suatu kesempatan sore, ketika angin sepertinya bisa di ajak berkompromi dan sehari tadi langit cerah dan sepertinya akan banyak bintang malam ini, ia menyapa Re yang tengah duduk disampingnya menghitung pasir.

                “Tak kah kau rindu melaut?”
                “Itu impianku. Tak perlu kau pertanyakan”, jawab Re
                “Tapi kenapa tak diperbaiki. Aku haus akan asinnya air laut”
                “Aku ingin rehat sejenak”, ucap Re pelan
“Sudah terlalu lama aku menanti dan menjadi bangkai disini. Perbaikilah dan marilah kita mencari ikan”, bujuk si kapal
                “Aku ingin rehat sejenak,” ulang Re
“Tak adakah kata lain selain mengatakan itu. Apa yang bisa kita perbuat disini? Aku bukan pajangan dan kau, apa yang kau dapatkan dengan hanya memandangi ombak di kejauhan? Ikan takkan datang jika kita tak melaut,”ungkap si kapal

Re memandang kapalnya sayu.

“Aku tahu kau bukan pajangan. Tapi bisakah kau bersabar sebentar sampai aku menemukan kayu terbaik dari hutan sebagai pengganti tiangmu yang patah? Lihatlah dirimu sekarang? Takkan bisa kau pergi melaut tanpa tiang layarmu,”

Re melanjutkan,” Aku membuatmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh kemampuan jiwa dan ragaku. Tapi tak jauh kita berlayar, angin itu merubuhkan tiangmu. Dan kau tahu, tiangmu adalah harapanku untuk melaut. Tanpanya takkan bisa kita berlayar jauh…”
“Ya…aku tahu itu… makanya janganlah hanya duduk disini, segeralah ke hutan, buatlah tiang terbaik agar ia selalu kuat di terpa angin dan badai. Aku sudah tidak sabar menjelajahi lautan,” ujar si kapal bersemangat
                “Mohon bersabarlah,.. suatu saat kita akan pergi melaut lagi…” jawab Re pelan
                “Apakah itu sebuah harapan untukku”, tanya si kapal tak sabar
                “Entahlah…”, jawab Re singkat

Re bangkit, dan berjalan meninggalkan kapalnya memasuki hutan.


Senin, Desember 13, 2010

Stayed (2)



Luka ini begitu besar,
Ternganga tanpa ada satu pun penawar yang bisa menyembuhkan
Luka ini begitu besar,
Hingga nyeri kadang masih terasa jika ia tersentuh tak sengaja
Luka ini begitu besar,
Sampai denyutnya mengaliri semua jaringan tubuh dan syaraf
Luka ini begitu besar,
Hingga bukan hanya air mata untuk bisa menahan sakitnya
Luka ini begitu besar,
Hingga aku terdiam, tercampakkan dan tersisihkan 



Minggu, Desember 12, 2010

Stayed ( )



Lambat laun ia masuk menyuruk ke bawah bumi
Meninggalkan asa yang tak pernah sepi
Sisa rintik lama tak tertampung
Membuat warna langit pergi tertiup angin laut
Tak datang jangan katakan singgah kan menghampiri
Lembayung takkan berganti menjadi kelam
Jika memang senja masih berkuasa

Senin, November 29, 2010

Berilah Aku Nasehat, Ukh. . .






Malam ini aku begitu letih. Letih pada fisik, pikiran dan hatiku. Letih fisik masih dapat kubawa berbaring dan istirahat. Letih pikiran masih bisa kubawa refresing dan bercanda dengan kawan-kawanku. Tapi jika hatiku yang letih, entah apa rasanya menjalani hari. Walaupun bibirku tersenyum dan tetap bergelak tawa tapi dalam hati aku merutuk kenapa hatiku tidak ikut bersamanya.
Dan malam ini di saat keletihan hati sedang menghinggapiku, datang sebuah sms dari seorang sahabat.

Berilah aku nasehat, ukh…

Lama aku berpikir. Entah dengan kata-kata apa aku harus membalas smsnya dengan kondisi hati yang juga bisa dikatakan sama dengannya. Aku tidak ingin dia menunggu lama. Karena kadang jika kita sedang membutuhkan orang lain, pasti berharap dia akan cepat merespon. Sembari berpikir mau mengatakan apa untuk menguatkannya aku membalas:
Lagi mendung sist?

Tak menunggu lama dia membalas:

Iya, halilintar..

Gubrakk… terlalu parah dari dugaanku. Aku bingung apa yang harus aku katakan karena aku bukanlah orang yang pandai menasehati orang lain. Dan aku juga tidak tahu duduk perkara permasalahannya. Ragu untuk bertanya lebih jauh, tapi ku beranikan menulis:
Wheww… ada apa sist? Ada apa dengan hatimu?

Sedetik kemudian dia kembali membalas:

Katakan apa saja, uniku.. agar aku kembali bersemangat…

Duuuhhh ukhti, apa yang harus aku katakan kepadamu di saat hatiku juga limbung tanpa pegangan saat ini. Aku bukanlah setegar dan sekuat yang engkau bayangkan, aku bukanlah orang yang bisa menjaga hatiku. Dan aku bukanlah orang yang bisa tertawa bersama di saat hatiku gundah seperti ini. Dan engkau datang di saat sifat autisku sedang menghinggapi. Bukannya tak mau berbagi, tapi bagiku, hanya aku yang tahu hatiku dan hanya aku yang bisa mengerti apa yang diinginkan hatiku. Kalaupun aku datang merangkak ke hadapan kawan baikku, maka merekalah yang dipilih hatiku untuk mempercayakan sakitnya dan sekaratnya.



Tapi sekarang disaat aku sedang menata rasa hati dan masih ingin membungkam sakitnya hati, dia datang dengan permohonan nasehatnya. Tiba-tiba aku merasa betapa harus bersyukurnya aku, bahwa sahabatku masih membutuhkan aku. Masih mempercayaiku dan membutuhkanku di saat sedihnya. Dan permintaannya memaksaku untuk juga memikirkan langkah yang harus aku ambil untuk hatiku. Dan permohonan nasehatnya juga yang menepuk pundakku bahwa gundah tidak menghampiriku sendiri, ada orang lain juga yang merasakannya. Dan mungkin gundahnya lebih besar dari gundahku. Dan dia membutuhkanku sekarang. Aku tak perlu merangkaikan kata-kata bijak untuknya. Atau aku tak perlu menjadi sok bijaksana dalam permasalahannya. Tapi aku mencoba untuk menguraikan benang kusutnya dengan hatiku dan dengan doaku dengan apa adanya aku. Akhirnya entah apa yang ada di pikiranku saat itu, jemariku lincah mengetik keypad:
Sist, aku bukanlah orang yang pandai menasehati. Tapi jika hatiku lagi gundah, aku ingin sendiri. Kadang di kala sendiri kita bisa merenung dan berpikir hingga bisa mengambil keputusan dan ikhlas menjalani keputusan itu. Aku tidak tahu apa mendungmu, tapi percayalah, sist… untuk mengusir mendung angin harus bertiup dan hujan perlu turun. Barakallah untukmu.. :)

Setelah beberapa saat, dia balas dengan tersenyum dan mendoakanku semoga Rabb selalu merahmatiku…

Terimakasih, sist… semoga berkah Allah selalu untuk kita semua… :)

Jumat, November 26, 2010

Hanya Buatku Sendiri



Aku tahu hidup itu harus berbagi.
Tapi jika ada satu hal 
yang tidak ingin aku bagi di dunia ini 
dengan siapapun,

apakah salah?
 
 
 
 

Kamis, November 18, 2010

Ada Apa Dengan Perempuanku . . .

karena wanita ingin dimengerti. . .






”G… ada apa sih? Kamu sakit? Kok dari tadi diam aja?”

G menggeleng, ”Gak kok. G biasa aja..”

”Gak.. gak biasanya...”

G memalingkan wajahnya ke jalan raya melihat hiruk pikuknya jalan raya.  Han memandang syahdu pada gadis di sebelahnya. Teman-teman yang lain saling berpandangan tak mengerti.  G beralih menatap Han.

”Kenapa sih Han? Im okey...”

Han mendengus. Kali ini ia yang mengalihkan pandangan. G beranjak dari tempat duduknya mendekati yang lain.  Han pun beringsut menukar posisi duduknya.  Teman-teman yang lain masih belum mengerti apa yang terjadi diantara mereka berdua.

Hp G bergetar, nada deringnya terdengar mengalun. G terkesiap, mata Han memandang tajam. G selintas melihat tatapan itu namun berlalu menjawab panggilan,

                ”Halo..waalaikum salam, G lagi sama temen-temen, nanti aja ya.. iya deh...walaikum salam..”

Mata Han nanar mengekori langkah G. G tahu Han sedang mengamati. Dadanya  bergemuruh akan perilaku Han tapi sebisa mungkin ia berusaha bersikap wajar.

Yang lain paham akan ketegangan ini  tapi tak mau terlalu turut mencampuri. Mereka juga mencoba untuk bersikap biasa saja. Mencoba untuk berpura-pura sedang tidak terjadi apa-apa. G duduk di sebelah Nyt, diam. Nyt mulai bersuara mencoba untuk meredakan suasana. Dalam sekejap kehebohan tercipta, tapi tidak bagi G dan Han. Mereka tetap larut dalam kebisuan. Walaupun sesekali turut ikut tersenyum mendengar celoteh yang lain. Tapi kecut..

                ”Eh, dah sore nih, pada gak mo pulang... pulang yuk.. besok aku mo asistensi nih...”, ajak Na

                ”Yuk Na G juga mo pulang”, balas G cepat.

Han berdiri, ”Kamu pulang ama aku G, ada yang mo aku bicarain”, sanggah Han.

”G mo pulang ama Na Han. Udah sore”, bantah G sembari meraih tangan Na.
”G....”, tatapan Han tak beralih darinya. Kebingungan kembali ada di benak yang lain.
”Kalian berdua kenapa sih?”, maki Nyt keras.

Perlahan G melepaskan tangan Na, ” Kalian duluan saja. G pulang sama Han.”

Mata G berkaca. Hatinya berdegup keras berusaha menahan bulir yang menyesakkan dada. Na menarik tangan G  membuat tubuh G terhuyung ke belakangnya. Nyt meraih dan merangkul bahu G.
Mata Na tajam menatap Han, ”Kamu kenapa sih Han.?? Ini sudah mo Maghrib. Kalo mo bicara kenapa gak dari tadi.!!”

”Kamu gak usah ikut campur Na. Ini masalahku dengan G”, suara Han terdengar datar.
”Masalah kalian juga masalah bagi yang lain. Kamu lupa Han...basecamp ini ada untuk itu..”, emosi Na memuncak mendengar penuturan Han.  Vir mencoba melerai.
”Sudahlah Na. Jika Han dan G memang lagi ada masalah biarkan mereka berdua bicara.  Mungkin belum saatnya kita tahu.  Tapi kalian janji bicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Jika kalian perlu kami akan selalu ada buat kalian. Han, janji... G akan baik2 aja...”

Han mengangguk. Perlahan, satu persatu mereka meninggalkan G dan Han yang masih berdiri mematung. Sekian detik tak ada sebuah kata yang terlontar, tak ada suara yang terdengar.  Hanya mata Han yang tak mau lepas menatap G, sedang G hanya mampu menundukkan wajahnya. Dalam.

Senja mulai menjelang, keheningan masih bersisa diantara mereka. Hanya tarikan nafas perlahan terdengar pelan. Selebihnya hanya desau angin malam yang mulai berhembus.

                ”Aku antar pulang, G”, terdengar Han berbicara.

G mengangkat wajahnya perlahan. Han berdiri di hadapannya mengulurkan tangan. G bangkit berjalan pelan mengikuti langkah Han di depannya. 
  

Minggu, November 14, 2010

Ketika Hatiku Ingin Sendiri



Setiap manusia diberi kemampuan untuk mengingat,
Tapi ketika dalam pikiranku terlintas lagi peristiwa itu, aku ingin ingatanku hilang saat itu juga
 
Setiap manusia diberi kemampuan untuk berbicara,
Tapi ketika ingin kuledakkan semua kemarahan, aku ingin bicara kotor kepadanya
 
Setiap manusia diberi kemampuan untuk melihat,
Tapi ketika aku dihadapkan pada kenyataan ini, aku menyesal mengetahui dengan mata kepalaku sendiri
 
Setiap manusia diberi kemampuan untuk mengungkapkan,
Tapi ketika hatiku lelah menahannya , aku hanya diam mematung membiarkan si bening keluar dengan sendirinya
 
Setiap manusia diberi kemampuan untuk mendengarkan,
Tapi ketika orang-orang lain membicarakannya dan mengatakan betapa bodohnya aku, aku ingin pergi sejauh-jauhnya, menyendiri sepi

Rabb, bukannya aku tidak bersyukur dengan segala kemampuan yang engkau beri. Tapi saat ini aku lelah dengan semua masa lalu ini. Aku sudah mencoba bertahan dengan hatiku, dengan rasaku, dengan segala hal yang bisa aku beri. Tapi ketika ‘semua itu’ terlintas, aku sesak, aku muak, aku sakit. Aku ringkih menahan berontaknya logika akan hatiku yang lemah. Apa masih bisakah hati dan pikiranku bersabar?

Semua indraku telah merasakan, melihat dan mendengarkan kesakitan itu. Dan masa lalu nan indah itu menambah kesakitan ini. Aku ingin semuanya kembali ke awal, ketika semua begitu indah terasa. Akankah bisa?



Senin, November 01, 2010

Va' Dove Ti Porta Il Cuore


Pergilah Kemana Hati Membawamu

Diingatkan kembali oleh seorang teman tentang novel ini, sewaktu tidak sengaja di waktu chatting membahas mengenai bahan bacaan yang sedang diminati. Dia lagi baca novel Va dove ti porta il cuore ini. Ini mengingatkan saya kisah akan penuturan nenek Olga yang serasa begitu hidup dan nyata melalui surat yang dituliskan kepada cucunya. Saya menyukai cara penyampaian dan gaya penulisan Susanna Tamaro untuk mengungkapkan suatu kesedihan, kejujuran dan pengakuan. Gaya bahasa yang kadang membuat kita berhenti sejenak dalam memahami dan meresapi makna dalam bahasa-bahasanya.



Nasehat yang paling indah dapat ditemui di halaman belakang sampul bukunya. Dan ini sudah bisa memberikan gambaran cerita yang menarik bagi pembaca tanpa harus membalik halaman-halamannya terlebih dahulu. Dan kemudian, kau akan akan larut bersama kata-kata indah yang disampaikannya.



Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu  
dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil  
janganlah memilihnya dengan asal saja,  
tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.  
Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,  
seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini  
Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu,  
tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi  
berdiam dirilah, tetap hening 
dan dengarkanlah hatimu  
Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah. . .  
dan pergilah kemana hati membawamu. . .



Dan kata-kata itu sangat saya sukai, karena rangkaian kata-kata tersebut terasa sangat feminin di hati saya. . .  :)





Sunyi

pict from here Kau tanya, apakah aku baik-baik saja setelah kau bercerita tentang gelisahmu menyapu malam? Beringsut nafas memburu, b...