Sabtu, Juli 16, 2011

"Poetry Hujan : Senandung Keletik Hujan"


Kau dengar  sesuatu?
Ia memanggilku
Ia menyebut namaku
Tak kah kau dengar?

Tidak..tidak…aku sedang tak bermimpi
Dia memang memanggilku
Lewat senandung  kelitik hujan
Yang  meriuh manja pd paras jendela,
mengajak sunyi menari

Basahnya menyejukkan
Rintiknya menyenandungkan irama rindu
Hujanku kan  datang meninabobokan angan
Rindunya sudah kuterima
Hampiri ia juga
dan senandungkan  kelitik hujan padanya
untuk   rinduku


 
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Rabu, Juli 13, 2011

Aku Takkan Menjawab..!

pict from here

Jauh sebelum sekarang,
Aku menjawab uluran tanganmu dengan kesederhanaanku
Tak pernah meracau mulutku meminta sesuatu lebih darimu
Seikhlas hati teguh akan lisanmu
Hingga belati itu tajam  menusuk jauh ke relung

Pelan kucoba untuk menetesi penawar sayatannya
Lantas,
Sekarang, perlukah kujawab  tanya maafmu?

Suluh sudah kupadamkan
Bukan salahku jika sekarang kelam menghampirimu,
Kalaupun sekarang berbuih-buih mulutmu menanyakan
Mulutku takkan terbuka untuknya
Ia terkunci sudah karena khianatmu,

Sekarang menjauhlah,
Biarlah lamat benci ini pelan menghilang
Dan kau takkan perlu bertanya lagi
Tapi jika saja tanyamu masih mengiang di gendang pendengaran
Ia akan semakin menumpuk, menggunung dan mengarati sayatan belatimu
Maka,
Menjauhlah,
Jangan cari aku lagi,, 



Minggu, Juli 03, 2011

Ma, apakah aku pernah..??

(Ketika kejujuranku ditepiskan)


pict from here



Ma…
Apakah aku pernah membohongimu?
Apakah aku harus bercerita beratus kali kepadamu untuk menjelaskan sesuatu yang meragukan hatimu?
Apakah kau perlu menghardikku agar aku berkata jujur?
Bukankah kau bisa melihat apakah aku berbohong atau tidak..
Perlukah kujelaskan beribu kali bahwa aku tidak mendustaimu?
Tidakkan, ma???

Ma…
Engkau pernah bilang, jika aku membohongimu maka aku akan menyakitimu, kan?
Dan kau pernah bilang, aku tidak boleh menyakiti hati orang lain juga dengan membohonginya juga, kan?
Dan aku percaya, karena kau yang mengatakannya
Dan aku berusaha untuk mematuhinya karena aku tidak ingin menyakitimu

Tapi kenapa, ma?
Seumur hidup kupegang keyakinan itu, tapi sekejap saja ada orang yang meragukannya
Aku merasa rendah, sangat rendah
Aku tak sanggup untuk melawan
Karena aku tak tahu apa yang harus dikatakan lagi untuk meyakinkannya

Kejujuranku tercampakkan, ma
Ia dipandang sebelah mata
Aku ingin berteriak untuk mengatakan bahwa aku tidak berbohong
Tapi ia tak mempercayaiku…

Ingin aku berlari, pergi sejauh-jauhnya
Tapi kakiku tak beranjak, hanya tetap diam disini
Hanya menangis sendiri meratapi keadaan hatiku yang sakit

Ma…
Dirimu masih mempercayaiku kan?
1_273454740m[1].jpgBahwa aku gadis kecilmu yang tidak pernah mendustaimu?
Iya kan, ma???

 Ma….
Tolong katakan padanya kalau kau mempercayaiku…
Dan ia juga akan mempercayaiku…
Karena..
Hanya itu yang kubutuhkan….


*sebuah file usang

Sabtu, Juni 18, 2011

Jumat, Juni 03, 2011

Read me, please!

 
pict from google


G memasukkan gulungan kertas itu ke dalam botol bekas air mineral. Meniru laku tokoh dalam “Message in the Bottle”, G berharap botol itu akan membawa segala resahnya. G menarik nafas berat. Tapi hembusannya tetap saja terkalahkan oleh angin pantai yang membelai lembut jilbab putih G. Jingganya langit menandakan sebentar lagi azan maghrib berkumandang, belum juga membuat G beranjak pulang. 

Pelan, G menghanyutkan botol, mendorongnya agar ikut terbawa ombak ke tengah laut. Botol menari-nari dibawa gulungan ombak. G terpaku lama memandangi. Tak sadar kaki celananya basah terkena pecahan ombak yang menyapu bibir pantai. G tak menghiraukan panggilan Va di kejauhan. Va terpaksa menyusul dan menarik tangan G agar menepi ke pantai. G kaget tapi menurut.

                “Kamu mo bunuh diri?”, maki Va begitu keduanya sudah agak menepi ke pantai.
                “Apaan sih, Va. Ya ga lah, masa berdiri disitu aja mo bunuh diri sih,”ujar G membela diri.
                “Gelagatnya seperti itu,” jawab Va sewot
G nyengir.
                “Emangnya kalo kamu hanyutkan surat itu, Han bakalan baca?”, tanya Va
Alis G bertaut menatap Va,”Yee…siapa bilang surat itu buat Han?”
Va mencibir, “Yee juga…jangan bohong deh, G. Aku tahu kalo surat itu buat Han. Iya kan?”
G melengah sembari berjalan menyisiri bibir pantai, “Ga kok. Kamu sok tahu…”
Va mendengus,’dasar keras kepala’, batin Va. Tak urung diikutinya langkah G.

Beberapa menit selanjutnya keduanya sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing. G melepaskan pandangannya ke segala penjuru pantai. Menikmati hembusan angin laut yang menyejukkan gundah hatinya. Va memperhatikan gerak gerik G. Ia tahu G lagi galau dan separuh mati ia mencoba untuk peduli, G bersikap sok tak butuh perhatian. Tapi itu takkan lama. Lihat saja, sebentar lagi kegundahannya itu akan mengalir. Hanya Va yang bisa memancing G untuk  bercerita.

                “G..capek ah jalan-jalan mulu. Duduk yuk…”, rengek Va
G tersenyum, “Yuk, dimana?”
Va menunjuk tumpukan batuan besar penghalang ombak. Dalam sekejap keduanya sudah menemukan tempat yang pas untuk duduk di atas batuan penghalang ombak itu. Percikan pecahan ombak yang membentur batu kadang mengenai wajah mereka.

                “G...”
                “Ya?”, G mengerling
                “Kamu tulis nama ga di surat kamu tadi?”, selidik Va
                “Ya G aja”
                “Kenapa bukan Gilian? Ato lebih lengkap Gilian Aurelia?”
Alis G bertaut menatap Va, “Kenapa ga sekalian aja tulis alamat lengkap aku”
Va terkikih, “Ya… kalo secara ga sengaja Han juga ke pantai trus nemuin botol dan surat kamu, kan dia jadi tahu kalo surat itu dari kamu buat dia”
                “Dari sekian banyak pengunjung pantai kenapa harus dia sih?”, elak G
“Kan surat itu memang buat dia, kan? Kenapa berharap orang lain yang menemukannya? Kenapa ga berharap Han langsung yang menemukannya?”
“Aku lelah berharap, Va”
Pancingan Va mulai mengeliat. Umpan sudah termakan sepertinya. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk menarik pancing.
“Aku ga ingin perasaan itu berlama-lama lagi di hatiku, Va. Aku ingin dia pergi jika memang semuanya itu hanya harapan kosong belaka. Mudah-mudahan semakin jauh botol itu dibawa ombak semakin jauh pula perasaan itu pergi dari hati aku. Kalaupun suatu saat ia ditemukan orang, mungkin hanya akan dibuang lagi lama-lama dia akan hancur sendiri dan hilang tak berbekas. Aku ingin seperti itu.”
“G, setahu aku semakin dibunuh rasa itu ia akan semakin erat mencengkram hatimu. Semakin kuat kamu ingin mengenyahkan sosok Han, semakin kuat pula hatimu akan menahan Han .Kenapa tidak berharap Han yang menemukannya? Biarkan ia tahu apa sesungguhnya yang kamu inginkan darinya. Tanyakan padanya, G!”
G terdiam.
“G, mungkin saat itu Han belum berani untuk mengungkapkan. Takut akan sebuah penolakan itu wajar G.”
“Aku harus bagaimana lagi untuk bersikap, Va, hingga ia begitu takut aku akan menolak. Bukan begitu ceritanya. Ia tak pernah mengharapkanku. Hanya sekedar bermain-main dengan tipe wanita penyendiri seperti aku. Itu yang sebenarnya.”
“Itu hanya anggapanmu, G.”
G menatap Va memohon, “Va, sudah ya…aku tidak ingin bercerita lagi. Bantu aku melupakan.”
                “Huufff… Itu takkan mudah, G.”
Va tersenyum memberi kekuatan. G juga ikut tersenyum, tapi hanya bibirnya, hatinya ingin meneriakan suatu harapan. Harapan baru yang coba dibangunnya dengan mengobati rasa hati.

Senja mulai merata menjingga. Sayup lantunan azan terdengar syahdu. Keduanya berasak meninggalkan pantai. Berjalan pulang untuk memenuhi panggilan Rabb untuk menghadap. Untuk mencurahkan segala galau jiwa dan gulana. Karena memang hanya Dia yang mengerti umatNya.

*sebuah file usang

Sunyi

pict from here Kau tanya, apakah aku baik-baik saja setelah kau bercerita tentang gelisahmu menyapu malam? Beringsut nafas memburu, b...